Bab 9. Ketakutan

1277 Kata
Bab 9. Ketakutan “Dia sedang terlena dan nyaman dipelukan dan diperaduan pria lain.” Sendok di tangan Alena terhenti. Napasnya mengalir pelan, hampir gemetar. Reza tahu ia masuk ke titik paling rapuh.Ia tahu senjata itu telah masuk tujuan. Namun sebelum Alena bisa membalas, suara pintu depan menggedor keras. BRAK! Alena tersentak. Reza mendongak. Suara langkah cepat melintasi ruang tamu, disusul suara laki-laki yang familiar. “Ma? Kata Pak Bimo, Mama ada tamu laki-laki?! Mama!” Di luar dugaan. Revan pulang sambil berteriak. Reza tersenyum, pikirannya berkecamuk. Meski terlalu cepat, setidaknya akan menarik. Sorot mata pria itu sangat jelas bahwa ia sudah siap bermain lebih jauh. Sementara itu, langkah kaki dari arah koridor mendekat. Tergesa-gesa. Tidak stabil, dan gelisah. Revan muncul di ambang pintu ruang makan. Tubuhnya langsung menegang saat melihat dua sosok itu di hadapannya. “Apa ini?” Suaranya pecah, setengah berbisik, setengah ingin meledak. Reza memutar badan perlahan. Senyum miring muncul, seperti seseorang yang sengaja menunggu momen ini. “Pagi, Van.” Alena langsung menoleh, napasnya menahan marah. “Revan—” Namun Revan menatap lurus pada Reza, seolah dunia lain menghilang. Hanya tersisa satu kenyataan, orang yang ia kira sudah selesai, berada di rumah ibunya. “Kenapa dia ada di sini?” Revan menunjuk Reza tanpa kedip. “Mama… ini apa?” “Ini apa? Kamu kelamaan di luar sana, makin ga sopan. Datang teriak-teriak, gak ada rasa hormat sedikit pun.” Alena menahan emosinya. Tangannya memegang meja supaya tubuhnya tidak goyah. “Waktu Mama datang ke rumahmu kemarin, Mama mau jelasin,” ucapnya perlahan. “Mama mau bilang kalau Reza sakit dan dia ada di rumah, karena gak sengaja Mama hampir saja mau nabrak dia.” Revan membeku. Alena melanjutkan, “Tapi apa? Kamu malah suruh Mama pulang. Padahal Mama udah baik lagi. Kamu yang gak mau tahu.” Revan terdiam. Pucat. Ia tahu betul kalimat itu benar. Ia juga tahu alasan ia mengusir Mamanya kemarin, ia takut ketahuan sedang menghabiskan waktu bersama Liora. Takut semua berantakan. Namun, Liora yang keberadaannya ingin ia sembunyikan dari Alena, malah suami Liora yang sedang makan bersama Mamanya. Reza menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menikmati kekacauan kecil itu. “Iya, Van. Kamu usir Tante begitu saja? Tega kamu. Untung aja beliau baik. Aku dirawat dan dijagain sampai sembuh.” Revan memijit tengkuknya. “Ma, seharusnya Mama bilang lebig detail. Bukan cuma ngomong ada urusan.” “Apa kamu beri ruang untuk Mama bicara?” suara Alena naik sedikit. “Semenjak kamu pisah rumah, kamu hanya mau dengar apa yang mau kamu dengar, bukan apa yang harus kamu dengar.” Revan memalingkan wajah. Luka lama yang selalu ia pura-pura lupakan, muncul menuntut perhatian. Reza berjalan santai menjauh dari meja makan. “Santai saja, Van. Aku cuma numpang beberapa hari.” “Beberapa hari?!” Revan terperangah. “Kamu pikir rumah ini apa? Hotel?” “Kenapa? Kamu takut sesuatu?” Reza mendekat, menatapnya tanpa rasa. “Atau takut seseorang akan tahu?” Suasana sedikit panas. Seperti udara menolak bergerak. “Sudah!” Alena memotong. “Bicara baik-baik.” Revan menatap ibunya. “Ma, Mama gak tahu siapa dia? Mama juga ga tahu apa yang dia lakukan? Kenapa Mama biarin dia tinggal di sini?!” Reza tertawa kecil, nada meremehkan yang sangat disengaja. “Lucu ya, Van. Kamu bicara seolah kamu malaikat. Apa kalimat itu gak kebalik! Harusnya untukmu, ya, ka?” Revan membalas tatapan tajam itu. “Keluar dari rumah ini!” Reza mengangkat dagu. “Aku gak mau.” “Revan!” Alena memperingatkan. Reza makin tersenyum, seakan dunia baru saja memberikan panggung sempurna. “Kalau aku gak mau pergi gimana?” Reza melangkah maju hingga hanya tinggal dua jengkal dari wajah Revan. “Aku juga bisa bilang banyak hal ke–” Revan seperti dihantam pukulan yang tak terlihat. Napasnya melambat, tangannya mengepal, rahangnya mengeras. “Reza…” suara Revan merendah, seperti kucing yang sedang terpojok. “Jangan bawa-bawa Mama.” “Kenapa? Kamu panik?” Reza mencondongkan tubuh. “Takut Mama tahu kamu main sama perempuan yang dia adalah…. Atau takut Mama tahu kamu suka hidup pakai nama besar seseorang yang bahkan kamu gak hormati?” “Cukup!” Alena memukul meja hingga sendok bergetar. “Kalian mau perang di depan Mama?! Apa-apaan kalian? Bukannya kalian berteman?” Keduanya langsung diam. Namun diam itu bukan damai. Diam itu seperti lahar yang menunggu celah. Alena menghela napas berat. “Revan, Mama hanya ingin kamu berpikir jernih sebelum bicara.” Revan menunduk, meremas rambutnya. “Mama gak paham.” “Paham,” kata Alena pelan, “yang Mama lihat kamu ketakutan.” Reza menyeringai karena kalimat itu masuk tepat di tempat yang ia inginkan. Revan menarik napas panjang, lalu menatap Reza tajam. “Kita bicara berdua.” Reza menaikkan alis. “Di sini juga bisa.” “Tidak.” Revan menahan diri untuk tidak meledak. “Ikut aku.” Alena ingin menahan, tetapi Reza mengangkat tangan. “Gapapa, Tan. Kita cuma mau ngobrol.” Namun tatapannya saat melewati Alena membuat hati wanita itu terasa janggal. Ada sesuatu yang baru. Bukan keramahan seperti sebelumnya. Bukan kepolosan. Ada sorot lain, lebih gelap dan mencurigakan. Mereka berjalan ke ruang belakang. Pintu tertutup perlahan. Alena berdiri mematung di dapur. Kedua tangannya menggigil tanpa ia sadari. Dua laki-laki itu… sesuatu tentang mereka membuat tulang belakangnya dingin. Bukan karena mereka akan berkelahi, namun karena ada sesuatu yang terasa seperti badai yang baru saja mulai menggulung dari kejauhan. Perasaannya tidak enak. --- “Van,” Reza membuka percakapan, “kamu mau apa dari aku?” Revan langsung mendorong d**a Reza hingga laki-laki itu terjengkang ke sofa. “Berhenti main-main di rumah ini. Aku serius.” Reza membetulkan posisi duduk. “Kamu gak punya hak ngusir aku.” “Ini rumah Mama.” “Betul.” Reza melipat tangan di d**a. “Dan kamu… bukan suaminya. Kamu juga gak tinggal di sini.” Pipi Revan bergetar. Reza melihatnya. Ia tahu titik rawan Revan berada di ruang itu, rasa malu bahwa kelakuannya akan dibongkar Reza. Selain itu Reza memiliki rahasia yang bisa menghancurkan Revan dengan telak. Seperti orang main catur, skakmat! “Keluarga ini urusan kami,” kata Revan dingin. “Lalu menggauli istriku apakah bukan urusanku?” Reza tertawa mengejek. “Jangan pura-pura suci. Kamu tahu kamu lahir dari kesalahan orang tuamu. Dan kamu tumbuh sambil nyalahin semua orang selain dirimu sendiri.” Wajah Revan memucat. Kata-kata itu, meski tidak Reza ungkapkan secara penuh, sudah cukup untuk memukul jantungnya. “Maksud kamu apa?” Revan bingung. Reza tersadar kalau lawan di depannya ini tidak tahu apa-apa. Ia menghela napas panjang. Reza mendekatkan tubuhnya. “Aku akan tinggal di sini sampai aku mau pergi. Kalau kamu coba ngusir, aku akan katakan semuanya ke Tante. Kamu tahu siapa yang akan hancur setelah itu.” Revan terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak menemukan kata balasan. Reza menepuk bahu Revan pelan, gerakan lembut yang terasa seperti pelecehan. “Tenang saja. Aku gak akan macam-macam sama Mamamu. Beliau terlalu baik buat diperlakukan buruk.” Revan mencengkram tangan Reza dengan keras. “Jangan dekat-dekat dengan Mamaku.” “Oh?” Reza mengangkat alis. “Baru tahu kamu bisa seperhatian itu.” Revan mendorongnya lagi. Napasnya kasar. “Aku serius.” “Aku lebih serius,” bisik Reza. “Ini baru mulai,” batin Reza. Pintu dibuka dari luar oleh Alena, panik. “Kalian—” Namun keduanya berdiri seperti dua patung, tidak menyentuh, tidak berkata, hanya menatap satu sama lain dengan ketegangan yang tidak bisa disembunyikan. Reza menoleh, senyum menenangkan muncul kembali. “Santai, Tante. Kita cuma ngobrol.” Alena mengangguk, meski raut wajahnya tidak percaya. Saat Reza melewati Revan, ia berbisik tanpa suara. “Aku belum selesai.” ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN