BAB 13: Tak Ada Pilihan “Aku capek selalu jadi orang yang kamu sembunyikan, Revan.” Kalimat itu keluar dari bibir Liora tepat ketika Revan membuka pintu apartemen kecil itu. Ya, Revan membawa Liora tinggal di apartemennya. Ia takut akan ketahuan oleh ibunya dan juga warga sekitar sudah mulai grasak-grusuk. Cahaya lampu kamar menyentuh wajah Revan, dan seketika bahunya turun. Ia seperti baru diserang sesuatu yang tidak ingin ia hadapi malam itu. Revan menutup pintu perlahan. Suasananya berat sekali. Seperti ada awan gelap yang sengaja berhenti tepat di atas kepala keduanya. “Kamu mulai lagi,” Revan berjalan masuk, melepaskan kunci ke meja. “Hari ini bukan waktunya untuk drama.” Liora tertawa kecil. Tawa yang tidak benar-benar tawa. “Drama? Kamu menyebut hubungan kita drama? Kita sud

