BAB 14: Panik. “Loh, Za. Kamu mau ke mana?” “Aku pamit, Tan. Udah terlalu lama aku di sini. Makasih, ya, Tante udah ngerawat aku.” Suara Reza memecah kesunyian di ruang tengah. Sore itu cahaya matahari menembus jendela besar dan jatuh ke wajahnya yang tenang dan santai. Seolah tidak ada badai yang sedang ia rencanakan. Alena meletakkan piring di atas meja. “Kamu mau pamit ke mana? Emangnya badan kamu udah pulih?” “Ke rumah lama, Tan. Sekalian juga aku mau bereskan berkas-berkas malam ini. Banyak yang harus aku selesaikan. Sekali lagi, terima kasih banyak, ya, Tante.” Alena tercenung. Ada rasa kosong di salah satu ruang di hatinya. Entah kenapa ia merasa aneh saat Reza mengatakan ingin pamit. Seakan ia tak rela dan dan tak ingin Reza menjauh. Reza meraih jaketnya. Sesuatu dalam sor

