Bab 15. Hampir Saja. “Dia bukan papamu! Paham!” Napas Alena tersengal karena emosi, setiap kata yang keluar dengan gemetar. Namun, ia baru menyadari kalau mengucapkan kalimat yang seharusnya Revan tidak tahu. Alena terdiam kaku saat tatapan Revan menuntut penjelasan. “Maksudnya apa, Ma? Kenapa Mama ngomong begitu?” “Dimana dia sekarang? Apakah kamu pernah bertemu? Gak, kan? Jadi, cukup sudahi ekpektasimu agar tidak sakit hati.” Alena menarik napas lega dengan perlahan, karena berhasil menciptakan kalimat agar Revan tidak curiga. “Kamu baru saja menuduh mama kesepian sampai butuh ditemani pria muda.” Nada Alena naik, namun tidak berteriak. Justru makin rendah, dan semakin mengiris. Revan membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar. Alena berdiri tegak. “Kamu bicara seolah mama

