"Sudah berapa lama kamu di Indonesia?" Andrew Bratasena Tandayu duduk dengan tenang di hadapan Sena. Meski terganggu dengan kedatangan Andrew, Sena tetap mempersilakan tamu tak diundang itu untuk masuk menemuinya. Menyediakan waktu untuk bicara di ruang meeting galerinya saja rasanya sudah sangat baik. "Setengah tahun." "Kenapa tidak pernah pulang?" "Untuk apa?" Sena mendengus kasar. "Jelas untuk menemui kami. Lagipula untuk apa kamu tinggal di sini? Kamu punya rumah Adrian." "Sejak dulu, tempat itu tidak pernah jadi rumah saya." "Kamu kembali ke Indonesia untuk menemui wanita itu dan anaknya, bukan?" "Bukan urusan Papa," tukas Sena cepat. Andrew terkekeh. "Berarti benar. Di mana mereka sekarang?" "Mau apa Papa bertanya tentang mereka?" Sesuatu di dalam dirinya mulai bergejolak.

