Di sudut sebuah restoran, Gwen duduk sendirian dengan wajah menekuk. Ke sekian kali dia melirik jam tangan mewah yang melingkari pergelangan tangan putih mulusnya. Kembali berdecak, kesal. Sudah hampir lima belas menit dia di sini. Duduk sendirian berseberangan dengan kursi kosong, sambil sesekali melirik ke arah pintu masuk. Sial betul, pikirnya, dia merasa sangat tidak pantas Ryan yang hanya seorang sopir membuatnya menunggu begini. Gwen jelas merasa lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan Ryan. Apalagi setelah melihat rumahnya kemarin. Menurut Gwen, sangat kumuh jika dibandingkan dengan rumahnya sendiri. Yaa meskipun rumah yang ditempatinya sekarang adalah rumah milik mamanya. “Kemana sih nih orang? Janji jam sebelas, ini sudah hampir jam dua belas belum nongol juga!” Kalau tida

