Pagi-pagi sekali Gwen sudah terganggu oleh suara dering handphone. Dia menggeliat malas di atas ranjangnya yang besar. Melirik jam di atas meja nakas. Masih pukul enam pagi. Gwen menggeram kesal. Biasanya dia paling cepat bangun jam tujuh. “Huh! Siapa sih yang telepon pagi-pagi begini?!” Dipaksanya menggeser badan hingga bisa meraih handphone di atas meja nakas, dekat jam kecil. “Awas saja kalau Diego!” ocehnya lagi. Dengan mata masih sepat, berat sekali rasanya untuk terbuka, Gwen membaca nama di layar handphone. “Ryan? Ngapain sih dia jam segini udah telepon aja!” Tapi tetap dijawabnya sebab teringat akan Ayara yang akan segera angkat kaki dari mansion milik Anggara. “Ya hallo?” “Hallo, Mbak Gwen? Wahh dari suaranya kayaknya masih tidur ya tadi?” “Sudah tau pakek tanya! Lagian ngap

