“Ah,” desisnya kecewa. Dipikirnya pesan masuk dari Ayara. Ternyata dari Gwen. Anggara membaca pesan itu, dia geleng-geleng kepala. “Belum sembuh juga penyakitnya. Huft! Padahal kalau dia mau banyak pria mapan di luaran sana yang akan tertarik padanya.” Anggara hanya membaca pesan itu, tidak membalasnya. Gwen baginya sudah dianggap sebagai adik sendiri, begitupun dengan Mama Arini yang sudah dia anggap seperti ibu kandungnya sendiri. Sebab Anggara sudah tidak memiliki kedua orangtua lagi, yang meninggal akibat kecelakaan. Hanya tinggal seorang kakak perempuan, itupun tinggal di luar negeri, di kota London, tempat kelahiran ibu mereka. Keesokan paginya, Ayara baru saja selesai menyusui Alvino lalu hingga dapat dua botol penuh, ketika seorang pelayan mengetuk pintu kamar. Sedangkan Mira s

