“Boleh bicara sebentar?” Ayara merasa tak nyaman. Dia juga merasa malu jika mengingat tentang kejadian tadi di ruang makan. “Umm … bicara tentang apa ya, Tuan?” “Kita duduk dulu sebentar di sana.” Anggara berjalan menuju ranjang besar, di sisi Ayara berdiri. Lalu duduk di tepian ranjang, agak jauh dari Alvino yang tidurnya agak di tengah. Anggara menepuk tempat di sampingnya. “Duduk di sini, Ayara.” Awalnya Ayara ragu, tapi kemudian dia duduk juga, tapi agak menjauh. Menjaga jarak dari Anggara. Bukan apa, dia hanya takut kalau-kalau detak jantungnya yang berdegup kencang ini bisa terdengar oleh Anggara. Ayara menunduk, kedua tangannya memainkan ujung baju. Dia duduk dengan tak tenang. Anggara menatap wajah Ayara lekat-lekat. Dia senang dengan keadaan ini. Dia yang mendominasi, seda

