Dua detik. Tiga detik. Detik berikutnya Ayara dengan cepat menarik selimut bayi yang tergeletak di kasur dan langsung menutupi dadanya. Anggara juga sontak memalingkan wajah. Dia tampak canggung. Gugup. Bingung mau berkata apa. Anggara garuk-garuk kepala yang tak gatal. “Umm—maaf Ayara, aku … aku nggak sengaja, kukira tadi—” “Nggak apa-apa, Tuan. Salah saya nggak mengunci pintu waktu Suster Mira keluar kamar. Apa Tuan mau melihat Alvino? Saya bisa berhenti memompa dulu.” Anggara mengangkat tangannya tanda menolak. “Kamu lanjutkan saja memompa, harus ada banyak stock asi selama nanti kamu di Lampung. Itu saja yang perlu kamu siapkan, besok cukup membawa barang pribadi yang penting-penting saja. Untuk pakaian dan barang yang bisa dibeli di sana, nggak perlu kamu bawa.” Masih sambil melih

