“Wahhh ternyata begini rasanya naik pesawat!” desis Ayara dengan bola mata membulat sempurna. Pandangannya ke arah luar jendela. Ayara memang mendapat nomor kursi dekat jendela, Anggara di tengah, lalu kursi paling pinggir masih kosong. Anggara yang mendengar itu hanya tersenyum tipis. Dia maklum karena Ayara seorang gadis sederhana. Apalagi tidak pernah dimanjakan suaminya. Seseorang duduk di samping Anggara. Seorang wanita paruh baya usia sekitar enam puluh. Berpenampilan anggun dan terlihat begitu percaya diri, wajah tuanya masih mengguratkan kecantikan yang begitu jelas. Dia mengangguk sekali ketika Anggara menoleh ke arahnya. Anggara membalas mengangguk dengan ramah. Lalu kembali tertarik memperhatikan tingkah lucu Ayara. Sekarang gadis itu sedang menggerak-gerakkan telunjuknya di

