Melihat nomor yang tertera pada layar handphone, tentu saja Ryan tidak berani untuk mengabaikan. Dia berdeham pelan sebelum menjawab telepon. “Hallo. Iya, Bos.” “Kamu di mana?! Antar barang kok lama betul! Konsumen sampai telepon saya!” Ryan terlihat agak gugup. Dia melirik jam di pergelangan tangan dan langsung menepuk jidat. Tadi dia memang agak lama saat menunggu Boy datang. Hari ini adalah hari kerja. Dan dia tidak bisa izin seharian. Jadi terpaksa mencuri waktu di saat jam kerja. “Ma—maaf Bos. Saya kena macet tadi, Bos. Tapi ini saya segera cari jalan pintas.” “Ya sudah, cepat ya! Jangan keluyuran kemana-mana, antar barang dan langsung kembali lagi ke kantor! Sebab pekerjaan numpuk di kantor. Kamu kan tau hari ini dua kurir nggak masuk kerja.” “Iya, siap Bos!” Sambungan telepon

