Prabawati melihat ke arah Reino dengan mata mendelik kesal. Bagaimana tidak kesal? Putra kesayangannya itu datang hampir empat puluh menit setelah dia telpon dengan wajah tampak tidak bersalah. Tanpa Prabawati tahu betapa Reino berusaha untuk menyembunyikan kekhawatirannya. Tadi dia sempatkan untuk menelpon Abdi, hasilnya dia malah ditertawakan habis-habisan oleh sahabatnya itu. “Kita gak mau kondangan Reino! Kenapa pula pakai batik sih?” Prabawati melihat Reino dari atas ke bawah, ke atas lagi. “Kan tadi mama bilang pakai baju rapi dan sopan, sekalian aja deh pakai batik nih.” Jawab Reino melengos. “Siapa tahu langsung disuruh ngelamar Jingga ya Mas? Ganti dulu nih, untung masih banyak kaos berkerah punya Mas Reino di sini.” Reina melemparkan satu kaos berwarna biru muda, tampak kon

