Baru jam dua belas siang, masih tiga jam lagi jelang jam tiga. Tapi Reino merasa waktu berjalan bak siput. Berkali-kali dia melirik ke arah jam tangannya, jam di MacBook Pro bahkan jam dinding, tapi semuanya sama. Tidak ada yang mati sama sekali. Karena tidak mampu lagi konsentrasi bekerja, akhirnya Reino pasrah saja. Menyandarkan punggungnya ke sofa empuk. Menutup mata dan memijat keningnya. Nyatanya tidak berhasil mengusir kegelisahannya. Lebih baik dia curhat saja pada Abdi. Toh mereka dalam kondisi yang mirip kok. Hanya saja yang mengalami kebingungan adalah Reina, bukan Abdi. Reina masih takut jika dia akan dikhianati lagi. Padahal baik Reino maupun Reina kenal Abdi dari lama, tahu sepak terjang lelaki itu. Lagipula jika Abdi nekat menyakiti Reina, dia tahu apa akibatnya kan? Rein

