Giana menatap dirinya di cermin toilet dengan napas yang masih terengah. Tangannya bergetar saat merogoh tas mungilnya, mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan. Dia tahu Mark ada di luar sana, menunggu, seolah menjadi bayangan yang tak pernah lepas. Pelayan yang tadi membantunya membersihkan meja muncul saat Giana memanggil, dan tanpa banyak tanya, Giana langsung menjejalkan uang itu ke tangannya. “Ambil uang ini, aku minta tolong. Kau harus lakukan cepat sebelum dia curiga,” bisik Giana dengan nada penuh tekanan. Pelayan itu terperanjat, namun begitu melihat jumlah uang yang banyak, wajahnya langsung berubah. “Apa yang harus saya lakukan, Nona?” “Pakaianku. Semua. Bawa keluar lewat pintu belakang, keluar dari toilet ini seolah-olah kau yang memakainya. Biarkan dia berp

