Kawin Lari

1677 Kata
“Pak Gara?!” Sialnya, Monik malah bersembunyi di belakang Aruna. Sepertinya, gadis itu menyadari kesalahannya. "Se—selamat siang, Pak." Aruna terpaksa turun tangan, menyapa Sagara. Lelaki itu diam sesaat, kemudian berbicara, "Apa yang sedang kalian bicarakan?" Monik langsung menyembunyikan ponselnya, sebab Sagara menatap benda itu. Aruna menyadari situasi tidak baik itu, dan lagi-lagi merasa harus menyelesaikan semuanya. “Maaf, Pak Gara. Kami cuma lagi ngobrolin hal nggak penting kok.” Aruna meringis canggung. Dia terpaksa memberikan klarifikasi bohongan karena tidak ingin dianggap salah. Sagara tidak menanggapi lagi. Dia menatap Aruna dengan tatapan dingin yang menusuk sampai ke tulangnya. “Kamu teman Darrel tadi?” tanya lelaki itu. “I—iya, Pak.” Aruna sontak menunduk karena tanda-tanda bahaya sudah menyerangnya. “Kalau begitu, setelah makan siang, kamu ke ruangan saya!” titah lelaki itu tanpa basa-basi. Monik langsung menyenggol lengan Aruna secara spontan, membuat gadis itu semakin gugup. “Ba—baik, Pak,” Aruna tergagap. Saking paniknya, dia tidak bisa mengontrol sikapnya sendiri. Tanpa mengatakan sepatah katapun lagi, tiba-tiba Sagara pergi begitu saja. Seperti tadi pagi, pria itu benar-benar tidak menghargai Aruna. “Pak Gara mau apa manggil lo ke ruangannya, Na? Jangan-jangan, lo mau dikasih duit lagi.” Aruna yang semula memperhatikan punggung Sagara sampai menghilang, langsung berdecak karena ucapan Monik. “Nggak mungkin, Mbak. Yang benar itu, kalau aku nggak disuruh putus sama Darrel, ya paling aku dipecat,” Aruna benar-benar pasrah. “Hus! Jangan ngomong kayak gitu, Na! Ingat, ucapan adalah doa. Jadi, lo harus ngomong sama mikir yang baik-baik aja.” Monik berusaha memberi Aruna semangat. “Tapi kenyataan, Mbak. Mbak lihat sendiri kan gimana Pak Gara? Beliau pasti nggak suka sama aku.” Belum apa-apa, Aruna sudah pias lagi. “Udah, jangan terlalu dipikirin. Mending kita buruan makan. Isi tenaga lo buat hadapin Pak Gara. Biar lo nggak terlambat juga temuin Pak Gara cuma karena kelamaan makan.” Aruna tak punya pilihan. Apa yang Monik katakan ada benarnya juga. Pada akhirnya, jangankan banyak makan untuk mengisi tenaga sepeda kata Monik, menelan beberapa suap nasi saja, rasanya Aruna seperti menelan batu. “Semangat, Na!” Monik mengepalkan tangannya ke atas. Dia tidak henti-hentinya memberikan support kepada Aruna. Bahkan, dia mengantarkan temannya itu sampai di depan pintu lift, karena ruangan Sagara ada lantai tertinggi gedung Bhimantara Group. Sampai di lantai lima belas gedung itu, Aruna menarik napasnya dalam-dalam dulu, kemudian menghembuskan secara perlahan. Inhale… exhale… Dan itu Aruna lakukan sampai beberapa kali sebelum akhirnya dia melangkahkan kakinya menuju pintu dengan tulisan Chief Executive Officer. Tiba disana, Aruna menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia ingin mencari seseorang yang bisa dia tanyai, tapi sayangnya dia tidak menemukan seorang pun di lorong sepi itu. “Apa aku ketuk aja ya? Tapi, kalau ganggu gimana?” Pikiran Aruna kembali berperang. Dia mengetuk-ngetuk pipinya sendiri, berpikir keras. “Tapi, tadi udah disuruh kan? Selesai makan siang gitu tadi bilangnya.” Ceklek. “Eh?!” Saking kagetnya, Aruna sampai memekik secara spontan. Gadis itu juga mundur beberapa langkah karena gerakan refleks nya sendiri. Tapi, begitu dia melihat siapa yang muncul dari balik pintu besar itu, Aruna langsung menunjukkan sikap sempurna. “Ma—maaf, Pak. Saya….” “Kamu Aruna?” tanya lelaki berjas rapi, yang sering mendampingi Sagara hampir setiap waktu itu. Aruna mengangguk pelan, kemudian tetap menunduk setelahnya. Entah kenapa, kalau namanya sudah diketahui orang-orang penting itu, dia berpikir akan ada hal serius yang menimpanya. “Masuklah! Pak Gara sudah menunggu,” titah lelaki itu lagi, membuka lebih lebar pintu ruangan Sagara. Aruna membungkuk sopan, kemudian benar-benar masuk ke dalam sana. Dia berjalan perlahan, sampai berhenti di hadapan Sagara yang duduk santai di singgasananya. “Selamat siang, Pak Gara,” sapa gadis itu, berusaha untuk tidak tergagap. “Hem. Duduk!” singkat Sagara, terlihat tidak terlalu peduli. Aruna bergerak seminimal mungkin, agar suara gerakannya tidak sampai mengganggu Sagara. Namun, saat dia tak sengaja menatap pemilik perusahaan di depannya itu, ternyata Sagara juga tengah menatapnya. Sontak saja, Aruna menunduk lagi dengan tangan saling meremas di atas paha untuk menutupi rasa gugupnya. “Sejak kapan kamu kenal Darrel?” pertanyaan itu terdengar to the point. Aruna menarik napasnya seenak. “Sejak dua tahun yang lalu, Pak,” lirih gadis itu, tapi cukup tegas. “Kalian teman sekolah?” tebak Sagara. “Benar, Pak,” Aruna mengangguk untuk meyakinkan jawabannya. Ada jeda beberapa detik, sebelum suara selanjutnya terdengar. Kalau Aruna tidak salah mengira, Sagara sedang menelisik dirinya. “Sudah lama pacaran sama Darrel?” Lagi, pertanyaan itu terdengar seperti interview kerja, tidak ada basa-basi sedikitpun. Aruna tersenyum tipis, masih menunduk. “Beberapa bulan setelah kenal, Pak.” “Oh….” Aruna mengintip Sagara takut-takut, berusaha melihat ekspresi lelaki itu. Tapi lagi-lagi, gadis itu salah tingkah sendiri, begitu menyadari ternyata Sagara masih menghunusnya dengan tatapan tajam. “Jadi, kamu yang selama ini mempengaruhi anak saya?” Kali ini, Aruna benar-benar mengangkat wajahnya karena refleks. Jujur saja, pertanyaan Sagara kali ini, cukup mengena ke hatinya. “Maaf, Pak. Saya tidak tahu apa maksud Bapak.” Sebentar saja, Aruna lantas menunduk lagi. “Darrel menolak bertunangan dengan gadis pilihan saya karena kamu.” Suara Sagara rendah, tapi menekan. Aruna memberanikan diri menatap Sagara. “Sa—saya nggak pernah mempengaruhi Darrel, Pak. Saya juga nggak tau kalau Darrel mau dijodohkan.” “Tapi sekarang, kamu sudah tahu kan?” desak Sagara sedikit cepat. Dan Aruna hanya bisa mengangguk pelan. Pria itu memutar-mutar kursinya dengan jumawa. “Jadi, sudah tahu apa yang harus kamu lakukan?” dagunya terangkat, seolah-olah ingin menunjukkan seberapa tinggi dirinya. Aruna mengangguk lagi, samar. “Kalau begitu, jauhi anak saya dari sekarang. Kalau Darrel masih mencarimu, lakukan segala cara agar dia meninggalkanmu. Saya rasa, kamu bukan gadis tidak tahu diri yang memaksakan keadaan. Darrel itu sudah punya calon tunangan, dan dia tidak pantas bersama gadis sepertimu.” Sagara menjeda ucapannya sebentar, kemudian menegakkan tubuhnya, tapi dia belum mengalihkan tatapannya yang menyeramkan dari Aruna. “Kamu….. masih butuh pekerjaan kan?” Aruna terdiam, tapi sudah bisa menjawab semuanya. Dia sangat menyadari ada dimana posisinya. Setelah Sagara mengusirnya dengan isyarat tangan, gadis itu berdiri, memberi salam santun kemudian keluar tanpa sepatah katapun. Sampai di luar ruangan Sagara, Aruna berjalan cepat turun dari lantai itu. Tapi, dia tidak langsung kembali bekerja, melainkan masuk ke dalam salah satu bilik toilet di lantai ruangannya berada. Gadis itu terduduk lemas di atas closet begitu pintu tertutup. Dia tidak menangis meraung, melainkan menghela napasnya dalam-dalam, berusaha menormalkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Jujur saja, Aruna merasa sedih karena dia harus berpisah dengan Darrel—orang yang sudah sangat baik kepadanya selama ini. Tapi, yang lebih menyakitkan dari itu adalah penghinaan tidak kentara yang Sagara tujukan kepadanya. Sialnya, Aruna tidak berdaya. Dia memang masih butuh pekerjaan itu. Pada akhirnya, dia mengeluarkan ponsel dari kantong celananya. Mengetikkan sebuah pesan singkat yang sebentar lagi akan merubah hidupnya. [Sorry, Dar. Kita harus putus. Makasih atas semua kebaikanmu selama ini. Tapi, aku mohon, jangan cari aku lagi setelah ini] jempol Aruna sempat menggantung beberapa saat sebelum dia menekan tombol kirim di ponselnya karena ragu. Tapi, begitu dia ingat kalau dia masih punya banyak mimpi yang harus ia wujudkan, Aruna benar-benar menyentuh icon kirim di ponselnya, hingga pesan itu bertanda checklist dua. Setelahnya, Aruna menyeka air mata yang jatuh tanpa suara. Setelah memastikan cukup tenang, dia kembali ke ruangan kerjanya seolah tidak terjadi apa-apa. ** “Papa!” teriak Darrel di rumah besarnya yang megah. Pemuda itu pulang membawa amarah yang terpancar di wajah tampannya. Langkahnya mantap menaiki tangga, bahkan dia tidak menjejaki satu persatu anak tangga itu. “Papa! Keluar, Pa!” Tok tok tok. Darrel mengetuk pintu kamar Sagara dengan tidak sabar. Beruntung, tak lama, pintu sudah terbuka dengan pelan. Ceklek. “Ada apa ribut-ribut? Kamu ketangkap lagi? Kamu balapan liar lagi?” pertanyaan itu terdengar seperti sudah biasa. “Papa ngomong apa ke Una?” tanpa basa-basi, Darrel langsung menyerang. Sagara menaikkan satu alisnya. “Apa maksud kamu?” tanyanya santai. Darrel terkekeh miris. Tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya. “Jangan pura-pura, Pa! Tiba-tiba, Una mutusin aku. Dia nggak mungkin ngelakuin itu tanpa alasan!” suaranya meninggi. “Dan satu-satunya orang yang dia temui hari ini dan punya hubungan sama aku, cuma Papa.” Hening sejenak. Sagara menghela napas pelan, lalu menyandarkan bahunya dengan tenang, di kusen pintu. “Kalau dia memilih pergi, itu keputusan yang tepat. Jadi, dia sudah mengatakan itu? Cekatan sekali pacarmu itu.” Kalimat itu seperti menyiram bensin ke bara api. Tangan Darrel semakin mengepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih pucat. “Jadi benar Papa ngomong yang nggak-nggak sama Una?!” tunjuknya penuh emosi. Mungkin, karena terbiasa dimanjakan, Darrel menjadi sosok tidak punya sopan santun seperti itu. “Papa pikir, Papa siapa, hah? Bisa ngatur hidupku seenaknya?!” Sagara menegakkan tubuhnya. Mulai merasa kalau emosi anaknya tidak bisa dianggap remeh. Tatapannya menajam namun tetap terkendali. “Papa ini ayah kamu, Dar,” jawabnya tegas. “Dan Papa berhak memastikan kamu tidak salah memilih.” “Tapi ini hidup aku, Pa!” bentak Darrel. “Bukan bisnis Papa yang bisa Papa atur seenaknya!” Sagara mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Aura dominannya langsung terasa mengintimidasi Darrel yang tidak pernah takut kepada Papanya. “Perempuan itu tidak cocok untuk kamu. Cheryl yang lebih cocok buat kamu.” Kalimat itu diucapkan tanpa ragu. Tegas dan mutlak. Darrel menggeleng kuat, napasnya semakin berat. “Aku nggak suka sama Cheryl,” Darrel tidak kalah tegas. “Tapi, kamu harus ingat pesan Mamamu, Dar. Dia memintamu menikahi Cheryl agar hubungan kita dengan kakekmu tetap terikat.” Darrel mengangguk-angguk, tapi bukan berarti dia setuju. “Oke… Kalau Papa tetap mau hubungan keluarga kita sama keluarga Cheryl terikat, kenapa bukan Papa saja yang menikahi dia?” tantang pemuda itu dengan beraninya. Sagara bergeming, tapi rahangnya mengeras. Dia bukan mengalah begitu saja, namun tahu hik anaknya sedang tidak bisa diajak berbicara baik-baik. “Papa nggak bisa kayak gini terus ke aku.” Darrel berbicara lagi, karena Papanya masih diam. “Aku nggak mau tunangan, apalagi sampai nikah sama Cheryl. Dan kalau Papa masih paksa aku, aku akan kawin lari sama Una.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN