**
“Una!”
Tok tok tok.
“Tolong buka pintunya, Una. Aku mau bicara dulu sama kamu. Aku nggak mau putus, Na.”
Aruna menutup telinganya dengan bantal. Dia sengaja pura-pura tidak mendengar kalau Darrel memanggilnya di luar sana.
Sejak tadi siang setelah Sagara memberinya peringatan, Aruna memang memblokir nomor kekasihnya hingga akhirnya pemuda itu mencarinya sampai ke rumah.
“Woy, Na! Pacar kamu tuh!”
Brak! Brak!
Kalau teriakan yang ini, berasal dari Herman. Lelaki itu menggebrak pintu kamar Aruna dengan kencang, menunjukkan kemarahan. Mungkin, Bapak tirinya itu merasa terganggu karena Darrel.
“Temuin dulu sono! Suruh pergi dari sini!” Lanjut lelaki pemabuk dan penjudi itu, marah-marah. “Malu sama tetangga, pacaran lebay begitu.”
Tapi, mana peduli Aruna kepada Herman. Dia memilih tetap diam di tempatnya, berusaha mengabaikan Darrel.
“Dasar anak muda jaman sekarang. Sok sinetron!” lanjut Herman lagi, masih didengar Aruna. “Kalau begitu, Bapak aja yang bilang sama dia kalau kamu nggak mau ditemuin.”
Awalnya, Aruna membiarkan saja. Tapi, begitu dia ingat sesuatu, Aruna terpaksa beranjak dari ranjang, langsung berlari dari kamarnya.
Dan benar dugaannya, ternyata Herman sedang melakukan negosiasi dengan Darrel.
“Kasih Bapak seratus ribu dulu, nanti Bapak paksa Una keluar.”
Darrel terlihat menurut. Dia mengeluarkan dompetnya dari kantong celana. Tapi, sebelum Darrel benar-benar mengeluarkan uangnya, Aruna berteriak.
“Aku udah keluar, Dar. Nggak usah kasih uang ke Bapak.”
Darrel mengurungkan niatnya. Sementara Herman mendengus kesal dengan tatapan sengit kepada Aruna.
“Dasar anak nggak tahu diuntung!”
Setelahnya, Herman pergi meninggalkan mereka. Bukan masuk rumah, tapi keluar rumah, menyusuri gang yang hanya muat satu mobil itu.
“Kita harus bicara, Na.” Darrel tampak tidak sabar, setelah Herman menjauh. “Apa aku boleh masuk? Atau kita keluar aja?”
Darrel berusaha memberikan opsi yang membuat Aruna nyaman.
Aruna menatap jam di ponselnya. Sudah hampir jam 9 malam. Rasanya, kurang pantas kalau harus menerima tamu laki-laki terlalu larut.
Apalagi, sepertinya Bu Marini sudah tidur setelah seharian menyetrika baju-baju tetangganya.
“Kita keluar aja, Dar. Tapi, nggak usah jauh-jauh ya.” putus Aruna, tak punya pilihan.
Darrel mengangguk senang, berkali-kali. “Kita ke minimarket aja. Sekalian kita beli keripik kentang kesukaan kamu.”
Aruna mengangguk pelan. Hatinya mencelos kecil. Mungkin, perhatian kecil Darrel seperti itu, tidak akan dia dapatkan lagi setelah ini.
Aruna masuk ke dalam rumah, mengambil jaket untuk menutupi piyamanya. Kemudian, mereka benar-benar ke minimarket yang Darrel katakan, dengan motor milik pria itu.
“Aku beliin keripik sama air mineral dulu.”
Darrel sigap bergerak setelah turun dari motornya. Tapi, Aruna cepat mencegah dengan tarikan di lengannya.
“Nggak usah, Dar. Kita langsung bicara aja.”
Ekspresi Darrel langsung berubah. Dia terlihat tidak suka, tapi terpaksa harus menuruti Aruna.
Aruna dan Darrel duduk bersebelahan di bangku depan minimarket. Tempat itu masih cukup ramai meskipun sudah malam.
“Aku nggak mau putus, Na.” Darrel yang memulai. Berjaga-jaga kalau Aruna akan mengultimatumnya lebih dulu.
“Nggak bisa, Dar. Kita tetep harus putus. Kamu harus tunangan sama pilihan keluarga kamu.”
“Nggak, Na!” Darrel langsung menggenggam tangan Aruna.
Aruna terkejut. Berusaha menarik cepat, tapi tetap kalah tenaga dari Darrel.
“Lepas, Dar!” bisik Aruna, malu menjadi perhatian beberapa orang di sekitar mereka.
“Aku nggak akan lepasin kamu kalau kita tetap putus. Biarin aja orang-orang lihatin kita,” sialnya, Darrel justru menjadikan kekhawatiran Aruna sebagai ancaman.
“Ayolah, Dar. Jangan kayak gini…” mohon Aruna, setengah frustasi.
“Kalau nggak mau kayak gini, bilang dulu kalau kita nggak akan putus.”
Aruna menurunkan bahunya lemas. Rasanya, sulit sekali menghadapi Darrel.
“Aku masih butuh pekerjaan di perusahaan Papamu, Dar. Dan kamu harus tunangan sama orang pilihan Pak Gara.” pada akhirnya, Aruna mengatakan yang sebenarnya.
“Jadi, Papa mengancammu?” tebak Darrel, tepat sasaran.
Aruna tidak bisa mengelak. Tapi, bicara baik-baik adalah satu-satunya jalan yang dia punya.
“Bukan mengancam. Tapi, orang tua pasti ingin yang terbaik buat anaknya. Termasuk Papa kamu.” Aruna berharap, semoga Darrel mau mengerti.
Darrel terdiam sebentar, tampak sedang berpikir. Belum sampai satu menit, dia sudah menatap Aruna lagi.
“Gini aja, Na,” ucap pria muda itu. “Kita backstreet aja di belakang Papa. Kita pura-pura putus, tapi aslinya enggak. Jadi, kamu tetap bisa kerja di Bhimantara Group, tapi kita juga tetap pacaran.”
Aruna menatap Darrel dalam-dalam. “Kamu nggak akan rugi kalau putus dari aku, Dar. Dan pasti, calon tunangan kamu jauh lebih baik dari aku.”
“Aku nggak peduli apapun tentang Cheryl, Na. Yang aku suka itu kamu. Aku sayang sama kamu, dan aku menyukai semua yang ada di kamu. Fisikmu, semangatmu dan juga kebaikanmu.”
“Tapi, Dar—”
“Aku nggak mau tahu!” potong Darrel tegas. “Pokoknya, aku nggak mau putus sama kamu. Kalau kamu nggak mau aku ajak kawin lari, kamu nggak boleh putusin aku.”
Aruna menganga tak percaya. “Yang bener aja kamu, Dar.”
“Aku nggak main-main, Na. Kamu nggak tahu gimana aku. Aku bisa nekat melakukan apapun demi mempertahankan kamu. Kamu nggak tahu kan kenapa dulu aku pindah sekolah?”
Raut wajah Aruna langsung berubah. Sedikit cemas karena Darrel terlihat tidak main-main. Dalam hatinya, Aruna juga khawatir kalau apa yang orang-orang itu katakan benar adanya.
“Darrel abis mukulin orang sampai kritis. Makanya pindah sekolah.”
“Dia juga sering tawuran sama geng motor gitu.”
“Katanya, dia pernah hamilin cewek tapi dipaksa gugurin.”
“Dia itu kejam. Makanya dibuang kesini. Semoga aja, dia nggak bikin ulah disini.”
Aruna bergidik mengingat ucapan teman-temannya yang sebelumnya tidak pernah dia percaya. Pasalnya, dia tidak pernah melihat sendiri apa yang Darrel lakukan.
Tapi, entah kenapa saat Darrel mengancamnya seperti ini, Aruna mendadak cemas dan ketakutan.
“Tapi, kalau Pak Gara tahu kita masih pacaran, gimana, Dar?” pada akhirnya, Aruna tidak berkutik.
“Ya jangan sampai Papa tahu. Kita pura-pura asing di depan Papa, tapi kita tetap saling sayang di belakang Papa.”
Aruna menghela nafas pasrah. Entah kenapa, dia yang malas mencari masalah, justru terlibat masalah besar seperti ini.
Bagaimana tidak besar? Secara yang sedang dia hadapi adalah orang-orang kaya yang punya kuasa. Berbanding terbalik dengan status sosial yang dia punya.
“Mau ya, Na? Aku janji kamu tetap bisa kerja di Bhimantara Group, biar tahun depan kamu bisa lanjut kuliah.” Darrel meyakinkan sekali lagi.
Aruna masih bergeming sedikit lama. Dia sudah mengerahkan seluruh pikirannya, tapi tidak menemukan jalan keluarnya.
“Aku takut berurusan sama Pak Gara, Dar.” Gadis itu masih berusaha menolak sekali lagi.
“Aku yang jamin semua baik-baik saja, Na. Kamu tinggal nurut sama aku kalau mau semuanya tetap berjalan lancar.”
Final.
Aruna tidak bisa mengelak lagi. Dia terpaksa menerima tawaran Darrel, bermain api di belakang Sagara.
**
Darrel: Na, ambil makan siang kamu di pos security ya. Aku udah pesenin kamu bento Jepang.
Aruna menatap layar ponselnya dengan senyum kecil. Sejak mereka baikan semalam, Aruna sudah tidak memblokir nomor Darrel lagi.
Meskipun Darrel sudah tidak mengantar jemputnya pagi ini, tapi lelaki itu masih punya cara lain untuk membuat Aruna merasa diperhatikan.
“Kenapa lo, senyum-senyum sendiri?” tanya Monik penasaran, tiba-tiba mengintip layar ponsel Aruna.
Aruna cepat-cepat mematikan layar ponselnya, kemudian mencebik pura-pura kesal.
“Ish, kepo! Udah ah aku ke depan dulu.” tiba-tiba, Aruna berdiri, berusaha menghindari pertanyaan Monik yang nggak pernah ada habisnya.
“Mau ngapain ke depan, Na? Lo nggak mau ajak gue?”
Sayangnya, belum sempat selesai dia bertanya, Aruna sudah beranjak dari sana.
“Rahasia,” kata gadis itu, langsung melipir menjauhi Monik yang mengerung kesal.
Tentu saja, gadis yang selalu ingin tahu itu, tidak puas dengan jawaban Aruna.
Setelah mengambil makanan kiriman dari Darrel, Aruna kembali lagi ke ruangan lagi. Rencananya, dia akan membagi makanan itu dengan Monik yang sudah ia buat kesal.
Sayangnya, Aruna tidak tahu, kalau dia sedang menjadi pusat perhatian seseorang dengan tatapan tajam di persimpangan lorong.
“Apa menurutmu mereka mereka sudah benar-benar putus, Man?” tanya Sagara tanpa menoleh. Tatapannya, tetap tertuju kepada Aruna. “Apa itu makanan dari Darrel?”
“Saya belum bisa memastikan, Pak. Semalam Mas Darrel ke rumah gadis itu. Tapi, tadi pagi, Mas Darrel tidak mengantar lagi.”
Sagara terdiam cukup lama. Mencerna dan memikirkan jawaban Arman.
“Menurut kamu, apa yang harus aku lakukan, Man? Kita tahu bagaimana liciknya bocah itu. Jangan sampai, dia menghamili perempuan lagi sebelum dia terikat dengan Cheryl.”
Arman terdiam sebentar, menunduk. Hanya selang beberapa detik, dia mengangkat kepalanya lagi.
“Saya rasa, anda harus mempercepat pertunangan Mas Darrel dengan Cheryl, Pak. Sementara untuk Aruna, sepertinya dia bukan tipe orang yang berani terang-terangan menantang anda. Hanya saja, untuk menjaga Mas Darrel tetap nekat, mungkin anda bisa mulai mengawasi Aruna dari dekat.”
Mendengar saran itu, Sagara bergeming. Tatapannya menajam ke sembarang arah, tapi disusul senyum smirk yang sulit diartikan.