Mau Apa Dia?

1856 Kata
** “Bagi Bapak duit!” Aruna yang baru saja menghabiskan sarapannya tersentak sekejap. Tapi, kemudian dia hanya bisa menghela napas panjang saat Herman mengulurkan tangan di depannya. “Una nggak punya, Pak. Ada juga cuma tiga puluh ribu buat ongkos ke kantor.” “Bohong kamu! Kamu ambilin uang tabungan yang mau buat kuliah kamu itu juga nggak ada ruginya. Seratus ribu doang nggak ada apa-apanya. Tapi, bonusnya kamu berbakti sama orang tua.” “Tabungan kuliah Una, ibu yang bawa.” Suara itu menghentikan Aruna yang hendak membuat mulut. Bu Marini, datang dari dapur membawa kopi untuk suaminya. “Bagus kalau begitu.” Herman tersenyum licik. “Mana uangnya? Bapak minta seratus ribu buat beli rokok.” “Kerja sendiri kalau mau beli rokok. Uang Una juga nggak ibu pegang secara langsung. Uangnya ada bank tanpa ATM.” “Ck.” Herman berdecak dengan bibir miring. “Pelit sekali kalian ini. Uang seratus ribu aja nggak mau ngasih. Padahal, kalian sama-sama kerja.” Lelaki itu duduk kasar di kursi samping Aruna, dimana kopinya diletakkan oleh sang istri. “Kalau ibu pelit, ibu nggak akan mau nampung Bapak disini lagi. Buat apa suami nggak berguna kayak Bapak yang bisanya cuma menyulitkan begitu?” Herman langsung meletakkan cangkirnya dengan kasar, mengejutkan Aruna dan ibunya. Dalam hatinya, Aruna berpikir akan ada pertengkaran lagi pagi ini. “Oh, jadi begitu kamu sekarang, Bu? Sudah berani membantah Bapak?” suara Herman meninggi. Aruna mulai waspada, sementara Bu Marini malah masih begitu santai setelah menormalkan keterkejutannya akibat gelas tadi. “Kenapa ibu nggak boleh berani sama Bapak? Seharusnya, ibu berani sama Bapak sejak dulu sebelum uang kompensasi Ayahnya Una Bapak habiskan buat judi.” “Bapak bukan judi. Bapak berinvestasi. Tapi, Bapak kena tipu sama temen Bapak.” Herman tak ingin disalahkan. Bu Marini menatap suaminya dengan berani. “Jangan pikir, ibu nggak tahu apa yang Bapak lakukan di luar sana. Nggak cuma satu dua orang yang bilang kalau malam itu Bapak habiskan uang kami buat minum, judi sama tidur dengan janda kampung sebelah.” Srak! “Kamu menuduh Bapak, Bu?” Tiba-tiba, Herman berdiri kasar sampai kursi yang dia duduki hampir terjengkang. Laki-laki itu menuding istrinya, marah. “Ibu nggak menuduh, ibu memang tahu.” Bu Marini tak mau kalah. Berdiri tegak, menantang suaminya dengan tatapan tajam. “Dan sekalian biar Una tahu apa yang sebenarnya Bapak lakukan pada uang Ayahnya.” Aruna yang sudah ketar-ketir, terpaksa berusaha menengahi. “Bu… udah…” “Biarin aja, Na!” teriak Bu Marini. Tatapannya masih menghunus suaminya. “Ibu sudah muak sama dia. Ibu nggak mau lagi nutup-nutupin kelakuannya di luar sana dari kamu.” Aruna menghembuskan napas berat. Dia bukannya tidak tahu semua itu. Tapi, dia hanya ingin menghargai ibunya yang dulu sangat mencintai suami keduanya. “Ya tapi udah, Bu. Jangan berantem lagi. Nanti tetangga pada denger.” Aruna berusaha bicara baik-baik. Kedua orang di depannya itu sama-sama sudah diliputi amarah besar. Bu Marini masih mengangkat dagunya, menunjukkan keberanian. Sementara Herman, wajahnya bengis dengan rahang mengeras. “Ibu nggak peduli. Biarin aja sekalian semua orang denger. Toh, memang mereka sudah tahu kelakuan Bapakmu yang nggak bermoral itu.” “Kamu sudah benar-benar berani sama Bapak, Bu?” teriak Herman menggelegar. “Iya!” teriak Bu Marini. “Seharusnya, sejak dulu ibu melakukan ini biar kami nggak semakin menderita karena kamu. Dasar laki-laki nggak berguna!” Herman langsung mengangkat tangannya secara spontan. Aruna melotot karena sudah menduga apa yang akan terjadi. Saat itu juga, dia maju selangkah, hingga tamparan Herman yang seharusnya mendarat di wajah ibunya, mengenai telinganya. Plak! “Una!” Aruna terdiam sebentar. Telinganya berdengung hebat hingga dia kesulitan mendengar. “Na, kamu nggak apa-apa?” Bu Marini panik, memegangi anaknya. Beruntung, dengung di telinga Aruna hanya terjadi sebentar saja. “Nggak apa-apa, Bu. Ibu juga nggak apa-apa kan?” Bu Marini mendadak diam dengan mata berkaca-kaca. Sedetik kemudian, beliau menarik Aruna ke dalam pelukan. “Harusnya ibu nggak bawa kamu ke masalah seperti ini, Na. Maafin Ibu… ibu menyesal melakukan semuanya. Harusnya, kita nggak pernah bertemu sama laki-laki seperti Bapakmu itu.” Aruna menaikkan tangan, mengelus punggung ibunya, berusaha memberi ketenangan. “Semua sudah terjadi, Bu. Mau gimana lagi? Mau nggak mau memang harus kita hadapi.” Saat dua ibu dan anak itu terlarut dalam penyesalan, Herman justru berdecih, sebelum meninggalkan tempat. “Cih, Drama!” ** “Gimana, masih sakit nggak telinga lo?” tanya Monik di sela-sela pekerjaan mereka. Aruna menoleh, kemudian menggelengkan kepalanya. Monik lantas tersenyum. “Bagus deh. Kalau gitu, lihat ini!” Aruna langsung mengerutkan keningnya melihat foto di layar ponsel Monik. Itu memang foto Sagara seperti biasanya, tapi kali ini bukan foto seksi atau foto-foto keren lainnya. Melainkan sebuah foto lelaki itu dengan seorang model perempuan yang juga menjadi seorang influencer. “Patah hati sekantor, Na. Ternyata, Pak Gara udah punya pacar. Mana mereka baru go public sekarang lagi. Kalau lo jadi nikah sama Darrel, lo bakal jadi menantunya Carissa, model yang yang lagi trending itu.” Aruna terkekeh miris sambil menggelengkan kepalanya. “Kayaknya nggak mungkin deh, Mbak. Nggak tahu juga aku sama Darrel mau sampai kapan. Kan Darrel udah punya calon tunangan, dan aku yakin Pak Gara nggak akan tinggal diam. Mungkin, aku bisa backstreet saat pacaran. Tapi kan nggak mungkin aku akan jadi pacar Darrel terus kalau dia menikah nanti.” Monik mengangguk-angguk setuju. “Bener juga sih, Na…” “Una!” Aruna langsung mengangkat kepalanya saat seseorang memanggilnya. Nindi. Dia adalah manager divisinya yang low profile tapi tegas. “Ya, Bu.” “Kamu diminta ke ruangan Pak Gara.” “Hah?!” Aruna terhenyak spontan. Tapi, di detik selanjutnya, dia lantas menutup mulutnya sendiri. “Em… tapi… kenapa ya, Bu?” tanya Aruna berusaha mencari tahu. “Laporan kamu ada yang salah. Kamu diminta memeriksa disana langsung, karena laporan itu sudah sampai ke atasan.” Aruna menatap Monik dengan tatapan minta pertolongan. Entah kenapa, dia tahu kalau dia sedang berada dalam bahaya. “Lo gimana sih, Na? Bisa-bisanya lo salah input data.” Monik malah menyalahkan, meskipun sebenarnya tujuannya menyayangkan. Mau bagaimana lagi? Dia sendiri bingung mengungkapkan kalau dia juga tidak bisa apa-apa. “Aku yakin nggak salah, Mbak. Udah aku cek ulang kok.” Aruna membela diri. “Tapi lo cuma manusia, Na. Meskipun udah lo periksa, tapi lo tetep aja masih bisa kelewat. Dan hari sial nggak ada di kalender. Lo nggak bisa membela diri, bisa lo cuma menghadapi.” “Sudah selesai ngobrolnya?” Aruna dan Monik, langsung menegakkan tubuhnya, setelah tadi berbisik-bisik. “Ma—maaf, Bu,” lirih Aruna. “Pantes aja laporan kamu ada yang salah. Ternyata, kamu suka ngobrol sama Monik,” sindir Nindi. “Maafkan saya, Bu. Enggak. Saya nggak suka ngobrol sama Mbak Monik kalau lagi kerja. Tadi… tadi saya cuma panik. Saya nggak pernah berhadapan langsung sama Pak Gara.” “Tapi sekarang, kamu harus menghadapinya, Una,” tegas wanita itu. “Dan kalau kamu nggak cepat, jangan salahkan saya kalau Pak Gara nggak bisa mentoleransi kamu lagi.” Aruna menjatuhkan bahunya lunglai. Merasa tak punya pilihan, gadis itu langsung beranjak menuju ruangan Sagara yang sebelumnya sudah pernah dia datangi sekali. Sampai di depan pintu ruangan Sagara, Aruna berhenti sebentar. Dia membuang nafas panjang dan cepat sebelum tangannya terangkat mengetuk pintu itu. Tok tok tok. “Masuk!” Suara itu kecil, tapi cukup terdengar oleh Aruna. Dengan gerakan pelan, Aruna mendorong pintu itu. Namun, saat dia mengedarkan pandangannya, gadis itu langsung disuguhi pemandangan mengejutkan yang hampir membuatnya tersedak ludahnya sendiri. “Ma—maaf, Pak.” Aruna langsung membalikkan badannya. “Saya nggak tahu kalau—” “Masuklah! Ini memang jam kerja.” Pada akhirnya, Aruna memutar tubuhnya lagi, pelan-pelan dan hati-hati. Dia berharap, perempuan cantik yang tadi duduk di pangkuan Sagara sudah turun. Dan untungnya, saat dia benar-benar sudah berbalik, model cantik yang dia bicarakan dengan Monik tadi, sudah berdiri di samping Sagara. Ya, Aruna baru saja menemukan Sagara b******u dengan kekasihnya. “Selamat siang, Pak Gara. Saya diminta Bu Nindi datang kesini.” Aruna berusaha profesional, meskipun ada perang batin bersama lelaki itu. “Ya. Saya yang menyuruh. Duduk disini!” titah keras Sagara. Aruna mengangguk. Kemudian, dia mengambil tempat duduk di seberang meja kerja Sagara sesuai perintah lelaki itu. Dia sempat melirik sang model karena penasaran, tapi rupanya dia justru mendapatkan tatapan sinis dari wanita itu. Mungkin, Carissa merasa terganggu karena kedatangannya. ‘Salah sendiri mesra-mesraan di kantor. Keganggu kan? Pesen hotel kek,’ cibir Aruna dalam hati. “Ayolah, Ga. Bisa nggak kalau kamu nggak kerja terus? Aku baru datang loh… masa kamu nggak kangen sama aku?” rengek Carissa. Aruna ingin tertawa mendengarnya. Tapi, tidak mungkin dia melakukan terang-terangan. “Sorry, Car. Tapi, aku lagi kerja. Nanti aku hubungin kamu lagi. Sekarang, pergilah dulu.” Aruna membelalakkan matanya. Sagara sedang mengulurkan black card kepada Carissa. Dan seketika itu juga, Carissa menerimanya dengan gaya pura-pura lesu. “Baiklah… aku terima permintaan maafmu kali ini. Tapi, aku akan tetap tagih janjimu besok-besok lagi.” “Hem…” singkat Sagara. Saat Carissa sudah melangkah pergi, pikiran busuk Aruna bekerja. Entah kenapa, dia menganggap sebenarnya Carissa senang dengan black card itu. Jujur saja, Aruna tidak sepenuhnya menghina. Tapi, gadis itu sedang menempatkan dirinya sendiri yang pasti akan senang juga kalau diberi barang seperti itu. “Ekhem!” Aruna mengerjapkan matanya gugup karena deheman Sagara yang mengagetkan. Gadis itu langsung bersikap normal dengan kepala tertunduk dalam. “Kamu tahu kenapa diminta kesini, hem?” tanya lelaki itu, dingin dan tegas. Aruna mengangguk pelan. “Bu Nindi bilang, laporan saya ada yang salah, Pak.” “Bagus kalau kamu tahu.” Sagara berdiri dari duduknya dengan jumawa. “Jadi, sekarang perbaiki kesalahanmu!” Plak! Lagi-lagi, Aruna dibuat terkejut karena perlakuan Sagara. Menunjukkan kalau gadis itu benar-benar tidak siap berhadapan dengan Sagara. Padahal, Sagara hanya sedang menjatuhkan sebuah map berisi laporan divisi produksi buatannya. “Cocokkan data yang kamu input dengan ini,” ucap Sagara. Memutar laptop di atas meja kerjanya, agar menghadap Aruna. Aruna tidak menjawab apa-apa, dia hanya siap melakukan apa yang diminta Sagara. Gadis itu mulai menggenggam kursor, hendak mencari file yang dimaksud atasannya. Sayangnya, karena itu bukan komputer miliknya sendiri, Aruna kebingungan. Dia terpaksa mengangkat wajahnya, menatap Sagara takut-takut. “Maaf, Pak. Y—yang mana ya file-nya?” Terdengar dengusan remeh dari Sagara. Lelaki itu berjalan memutari meja kerjanya, berhenti di samping Aruna. “Makanya, jangan sok tahu.” Aruna menunduk semakin dalam. Satu tangannya mengepal berusaha menahan diri dari tekanan yang menyiksanya. Sialnya lagi, saat Sagara membungkuk di sampingnya, Aruna justru dibuat panik. Dia bergerak spontan, sedikit menjauh agar jarak kepala mereka tidak terlalu dekat. Tiba-tiba, Sagara menoleh, dan Aruna semakin gelagapan. “Kenapa kamu?” ketus lelaki itu, satu alisnya terangkat. Aruna menunduk, sambil menahan napasnya karena tak ingin melakukan kesalahan di depan lelaki itu. “Ti—tidak, Pak. Nggak apa-apa.” Aruna tersenyum canggung. Namun, Sagara justru tersenyum menyeringai. “Kenapa, hem? Kamu tidak nyaman berdekatan dengan saya? Bukankah kamu biasa melakukan dengan anak saya?!” Tiba-tiba, Sagara mencondongkan badannya mendekat, hingga Aruna menutup matanya secara refleks, dengan jemari mencengkeram kuat di ujung kemejanya. 'Astaga... dia mau ngapain?'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN