“Hey…” “Dyrta…” Sapa orang itu dan membuat langkah kaki Dyrta terhenti tiba-tiba. Dyrta, dia berbalik badan dan melihat siapa orang yang berani mencekal lengan kanannya. Deg! Dyrta melihat sang Abang yang ternyata berpas-pasan jalan dengannya. Sungguh dia malu sekali saat ini. Dyrga, dia yang tidak tega melihat sang Adik dalam keadaan seperti ini. Dia mengajak Dyrta untuk mengikuti langkah kakinya. Mereka berdua berjalan menuju ruangan kolam renang yang ada di lantai dasar. Dia pikir, lebih baik bagi mereka jika berbicara berdua saat ini. Dyrga, dia tahu kalau sang Adik membutuhkan seseorang untuk dia ajak bicara. Atau setidaknya, sebagai Abang dia bisa dengan setia mendengarkan segala keluh kesah sang Adik. Me