Elina tengah berada di dalam mobil milik Radit sekarang. Ia mengumpat dalam hati, merasa jengkel karena bosnya itu begitu semena-mena dengan dirinya. Bahkan Elina merasa dirinya sudah cukup sabar, tetapi tingkah Radit yang seolah sengaja mengusiknya membuat kesabaran itu mulai terkikis.
"Kamu tidak mau turun, Elina?" tanya Radit dengan nada santai, seolah tidak ada yang aneh.
"Hah?" Elina terkejut, menyadari dia melamun begitu lama. Seketika dia melihat ke luar jendela dan baru sadar kalau mereka sudah sampai di depan kantor.
"Kamu nggak khawatir orang lain berpikir aneh-aneh, kan, ketika tahu kita lama berada di dalam mobil?" Radit goda dengan nada yang sedikit nakal.
Tiba-tiba Elina merasa darahnya berdesir. Radit benar. Jika orang-orang tahu dia terlalu lama berada di mobil bersama bosnya, pasti akan ada banyak gosip tak jelas yang tersebar. Ia tidak mau menjadi bahan pembicaraan di kantor. Itu akan sangat memalukan.
Dengan cepat, Elina membuka pintu mobil dan keluar tanpa menoleh lagi. Radit, yang duduk di kursi pengemudi, hanya bisa tersenyum tipis melihat reaksi Elina yang terlihat menggemaskan, meskipun dirinya kesal.
"Terlihat menarik," puji Radit tanpa sadar, namun Elina langsung mengabaikannya dan menutup pintu mobil dengan cepat.
Elina bergegas menuju pintu kantor, berharap tidak ada yang memperhatikan. Namun sayangnya, seiring langkah kakinya yang cepat, beberapa rekan kantor sudah berdiri di luar dan sepertinya memperhatikan dengan tajam setiap gerak-geriknya. Ketika dia turun dari mobil Radit, beberapa rekan terlihat saling berbisik dan memandang dengan pandangan penuh tanya.
"Kamu lihat nggak? Elina turun dari mobil Bos," ujar salah satu wanita dengan suara rendah namun terdengar jelas.
"Kira-kira mereka punya hubungan apa yah?" tanya wanita lain yang mengenakan rok span, memandang ke arah Elina dengan mata penuh rasa ingin tahu.
Elina berusaha mengabaikan mereka, namun di saat yang sama, dia merasa terjebak dalam situasi yang tak diinginkannya. Ketika dia melewati mereka, tanpa diduga, tangan salah satu wanita yang tadi berdiri menahan tangannya.
"Heh, Elina!" seru wanita itu dengan nada yang agak tinggi, menarik perhatian Elina dan membuatnya berhenti sejenak.
Elina menoleh, wajahnya tampak sebal. Tiga orang yang biasanya menjadi teman dekatnya di kantor kini menatapnya dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu. Elina merasa seolah-olah mereka sedang menyelidiki dirinya.
"Kenapa tarik tangan segala?" tanya Elina dengan nada ketus, jengah. Tangannya yang tertahan membuatnya sedikit marah.
Bela, salah satu teman yang biasa akrab dengan Elina, tersenyum nakal. "Memangnya kenapa? Kita butuh penjelasan, Elina. Kami kan teman. Jangan malah diam aja."
Elina menatap mereka dengan tatapan tajam, menyadari bahwa mereka sedang berusaha menggali informasi lebih banyak tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Maksudnya?" tanya Elina, mengangkat sebelah alis dengan penuh rasa ingin tahu. Namun, dia bisa merasakan ada sesuatu yang tak beres di sini.
Bela menatapnya dengan serius, lalu berkata dengan nada yang agak menuduh, "Gak usah pura-pura deh, kami tahu semuanya. Kamu habis turun dari mobil Pak Radit kan? Kamu punya hubungan apa sama dia?"
Kina, yang berdiri di sebelah Bela, ikut menimpali dengan nada meremehkan, "Iya nih, kita lihat sendiri kok, bisa-bisanya kamu malah menggoda bos seperti itu."
Elina merasa terkejut dan marah sekaligus. Tanpa bukti, mereka langsung menghakimi dirinya seperti itu. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi mereka sudah menyimpulkan begitu saja.
"Apaan sih kalian?" Elina menghela napas panjang, merasa kesal. Dia tidak menyangka teman-temannya yang seharusnya mendukungnya justru menambah masalah. "Aku nggak punya hubungan apapun dengan Pak Radit. Cuma karena kebetulan aja dia yang menjemput aku."
Bela dan Kina saling bertukar pandang, tetapi tidak ada tanda-tanda mereka akan berhenti bertanya. Mereka jelas belum puas.
"Gak usah bohong, Elina!" Bela menatap Elina dengan tatapan yang tajam, seperti ingin mengungkap rahasia yang ada. "Kita lihat dengan mata kepala kita sendiri. Bisa-bisanya kamu berdua itu berduaan begitu lama."
Elina merasa dunia seperti berputar lebih cepat. Sebelum dia sempat menjawab, Maya, yang sejak tadi diam, akhirnya ikut bicara. "Dengar Elina, kami cuma ingin tahu. Jangan bikin kami khawatir. Kalau kamu punya hubungan dengan Pak Radit, ini bisa jadi masalah besar."
"Aku tidak punya urusan dengan kalian, jangan ikut campur!" maki Elina.
Namun, Kina tidak tinggal diam. Dia bersungut-sungut, "Jangan terlalu sombong, Elina. Jangan kira kalau kamu dekat sama Pak Radit, kamu bisa seenaknya."
"Ah, terserah kalian deh," Elina akhirnya berkata dengan nada datar, lalu bergegas pergi.
Namun, di balik langkahnya yang cepat, Elina tahu bahwa ia takkan bisa menghindari gosip yang sedang berkembang tentang dirinya di kantor. Bahkan sekarang, dia merasa semakin terjepit oleh situasi yang diciptakan oleh teman-temannya sendiri.
Apalagi dia yakin kalau Radit mempunyai hubungan dengan Elina. Dia akan membuat Elina mengakui semua hubungannya.
"Kalian gak usah sok tahu jadi orang!" umpatnya dengan sedikit kesal.
"Memangnya kenapa? Ada masalah?" tanya Elina dengan nada yang sedikit berani melawan mereka. Dia tidak mau kalau sampai diremehkan oleh orang-orang yang ada di sana.
"Rupanya benar yah kalau kamu punya hubungan dengan Pak Radit."
"Sudah kalian jangan bergosip, aku juga mau bekerja." Elina langsung memotong pembicaraan karena memang dia tidak mau lama-lama bersama dengan mereka.
Bodo amat kalau mereka semuanya akan berpikir hal aneh tentang dirinya sekarang. Dia sudah mengatur semuanya sedari awal.
"Jangan sombong kamu Elina. Mentang-mentang punya hubungan dengan Pak Radit. Awas saja kamu," ancam Kina.
"Terserah."
Elina tidak mau berdebat dengan orang-orang yang ada di sana. Terlebih dia mengetahui sesuatu sekarang. Ini tentang Kina yang memang sedari awal tidak menyukainya.
Elina memutuskan pergi begitu saja, meninggalkan yang lainnya. Dia masih penasaran dengan hubungan antara Elina dengan bosnya.
"Kamu melihatnya bukan, sekarang Elina malah terlihat sombong karena dekat dengan bos," ujar Kina.
"Kamu benar Kina. Sepertinya kita harus memberikan pelajaran pada Elina. Biar wanita itu kapok," ujar Bela dengan senyuman yang penuh arti.
"Apa tidak akan terjadi sesuatu kalau kita memberikan pelajaran pada Elina? Bagaimana kalau nanti dia malah mengadu pada Pak Radit dan kita dikeluarkan dari perusahaan?" ujar Maya yang merasa khawatir.
Bela menatap ke arah Maya yang mengatakan itu padanya. "Gak usah khawatir, dia tidak akan berani macam-macam kok sama kita, percaya deh."
"Benar itu kata Bela. Wanita seperti dia harus kita kasih pelajaran, jangan takut dengan wanita seperti dia," kata Kina dengan senyuman penuh arti. Dia sudah merencanakan sesuatu untuk membuat wanita itu merasa malu.
"Baiklah aku akan ikut kalian saja." Maya hanya mengatakan itu saja, dia tidak punya rencana untuk melakukan hal yang buruk sekarang.
***
Sementara itu, di dalam lift, Elina mengumpat kesal seorang diri. Telinganya terus bergaung dengan suara gosip yang semakin menggema di kantor, terutama yang beredar tentang dirinya. Setiap kata yang ia dengar membuatnya semakin tertekan.
"Menyebalkan sekali," gumamnya, sambil memejamkan mata, mencoba menenangkan diri.
Dia tahu, di kantor ini, tak ada rahasia yang bisa bertahan lama. Setiap gerak-geriknya seolah selalu dipantau. Dan kini, gosip tentang dirinya yang beredar semakin memanaskan suasana.
Ketika pintu lift akhirnya terbuka, Elina menarik napas panjang, siap menghadapi apa yang ada di depan. Namun, saat matanya tertuju pada sosok yang paling tidak ingin dia temui sekarang, siapa lagi kalau bukan bosnya.
Radit berdiri di depan pintu lift dengan ekspresi santai, seolah tak ada yang aneh. "Lama sekali di bawah, habis bergosip dulu?" katanya sambil tersenyum sinis, seperti menyindir.
Elina menahan diri, mencoba tetap tenang meski ada dorongan kuat untuk membalas dengan nada yang lebih tajam. Namun, ia tahu itu hanya akan memperburuk keadaan. "Jangan asal tuduh, Pak Radit," jawab Elina, mencoba menahan amarahnya yang sudah hampir tumpah.
Radit menatapnya dengan tatapan yang entah mengapa semakin membuat Elina merasa tidak nyaman. "Kok asal tuduh, Elina? Tadi saya lihat sendiri kamu sedang berbicara dengan teman-temanmu itu. Sepertinya ada yang tidak beres," Radit berkata, sambil sedikit menyeringai.
Elina bisa merasakan ada yang berbeda dalam cara Radit berbicara. Seperti ada kecemasan di balik tatapan matanya. Namun, dia tidak ingin terlalu memikirkan hal itu. "Kamu tidak bisa begitu, Pak Radit. Jangan gampang menyimpulkan sesuatu," Elina menjawab dengan tegas, berusaha menunjukkan bahwa dia tidak takut dengan tuduhan yang ada.
Radit sebenarnya tidak masalah jika dirinya dikaitkan dengan Elina. Namun, ada satu hal yang membuatnya khawatir. Keluarga mantan istrinya, terutama ibu mertua Elina yang sangat perhatian pada anaknya, pasti akan segera tahu tentang gosip ini. Dan itu bisa merusak semuanya. Radit tidak ingin hal itu terjadi, apalagi sampai berpengaruh pada hak asuh anaknya yang sudah lama ia perjuangkan.
"Elina, kamu harus hati-hati dalam bertindak," ujar Radit, kali ini suara agak lebih serius. "Saya tidak mau ada gosip miring yang bisa merusak reputasi saya, apalagi sampai mempengaruhi anak saya."
Elina merasa sedikit terkejut mendengar nada serius Radit. Selama ini, dia mengenal Radit sebagai sosok yang tampaknya selalu santai, tidak mudah terbawa perasaan. Namun, ada sesuatu dalam kata-katanya yang membuatnya menyadari betapa dalamnya masalah ini bagi Radit. Mungkin ada lebih dari yang dia pikirkan.
"Terserah Pak Radit saja," Elina menjawab dengan suara datar, berusaha menahan rasa kesalnya. "Saya permisi untuk bekerja," ujarnya sambil menekan tombol lantai dan melangkah keluar dari lift dengan langkah cepat.
Radit tidak menjawab. Hanya menatapnya dengan pandangan yang agak ragu. Ada sesuatu yang membuatnya ragu apakah ia harus berbicara lebih lanjut dengan Elina atau membiarkannya pergi begitu saja.
Namun, sebelum Elina benar-benar keluar, Radit menyebutkan satu kalimat lagi, membuat Elina berhenti sejenak. "Saya harap kamu ingat apa yang saya katakan, Elina. Jangan sampai ada masalah yang lebih besar karena ini."
Elina menoleh, menatapnya dengan mata yang sudah lelah. "Pak Radit sendiri yang awalnya cari masalah. Kalau tidak mau ada gosip, seharusnya Pak Radit tidak menjemput saya tadi. Sampai depan lobi kantor pula, banyak yang lihat," Elina mengeluh, suara geram terdengar jelas.
Radit menyadari kesalahannya. Ada bagian dalam dirinya yang merasa bersalah, tetapi di sisi lain, ia merasa seolah tidak punya pilihan. Semua terjadi begitu cepat dan tanpa perencanaan. "Sudahlah, kembali bekerja," katanya akhirnya, dengan nada agak pasrah.
Elina menatapnya satu kali lagi, lalu melangkah pergi. Sesaat dia merasa lega bisa menjauh dari Radit, namun di sisi lain, hatinya tidak sepenuhnya tenang.
Gosip di kantor akan semakin berkembang, dan ia tahu, semakin lama ia tinggal di sana, semakin rumit masalah ini akan jadi. Ia hanya bisa berharap, Radit tidak akan mempersulit keadaan lebih jauh lagi.
BERSAMBUNG