Elina baru saja terlelap dalam mimpi-mimpinya yang tenang saat tiba-tiba suara klakson mobil mengusiknya. Dengan cepat, dia terbangun, matanya masih setengah terpejam, namun suara klakson itu sudah cukup membuatnya terkejut.
"Astaga, dia sudah datang," gumamnya panik, mengenali mobil itu dari jauh. Itu adalah mobil Radit, bosnya yang selalu datang tanpa pemberitahuan.
Dia bergegas bangun dan berlari ke jendela untuk melihat lebih jelas. Radit, pria itu, selalu membuatnya merasa cemas tanpa alasan yang jelas. Padahal hanya bos, tapi entah kenapa, setiap kali bertemu dengannya, Elina merasa ada ketegangan yang tak bisa dia hindari.
"Sialan, kenapa harus sepagi ini," kata Elina, kesal pada dirinya sendiri. Seharusnya dia bisa lebih santai, tapi pertemuan pagi ini selalu membuatnya cemas. Dia hanya bisa mengumpat sambil mengambil langkah cepat menuju kamar mandi. Pagi ini, sepertinya dia harus lebih berhati-hati, karena Radit tampaknya datang tanpa memberi amaran sebelumnya.
Dia mandi dengan cepat, berusaha membersihkan dirinya secepat mungkin. Sambil berpikir, "Kenapa juga dia datang sepagi ini? Ada apa ya?"
Namun, ketika dia keluar dari kamar mandi, Elina merasa sedikit lega, karena setidaknya dia sudah mempersiapkan segala sesuatu dengan baik. Tapi, saat dia berdiri di depan cermin dan menatap penampilannya, dia terkejut mendengar suara ketukan keras di pintu.
Tok tok tok.
"Tunggu sebentar!" serunya dengan sedikit gugup. Wajahnya yang sebelumnya rapi kini sedikit berantakan karena terburu-buru. Dia mengambil napas dalam-dalam sebelum memutuskan untuk membuka pintu.
Ketika pintu terbuka, mata Elina langsung tertumbuk pada Radit yang berdiri dengan ekspresi tenang namun sedikit tajam. Seperti biasa, pria itu selalu tampak sempurna, berpakaian rapi, dan ada aura yang membuat Elina merasa seolah-olah dia sedang diperhatikan lebih dari yang seharusnya.
"Lama sekali," ujar Radit dengan nada yang sedikit menuntut, namun masih ada senyuman samar di wajahnya yang sulit ditafsirkan.
Elina buru-buru mundur, mempersilakan bosnya masuk dengan canggung. "Pak Radit, tunggu saja di luar," ujarnya, mencoba bersikap formal meskipun hatinya berdebar-debar.
"Saya belum sarapan. Jadi saya ke sini mau minta makan," jawab Radit dengan santai, seolah-olah meminta sesuatu yang biasa saja.
Elina terdiam, merasa canggung. Minta makan? Pikirnya, agak terkejut. Bagaimana mungkin bos sekelas Radit, pria kaya dan sukses itu, malah meminta makan padanya yang tinggal di kontrakan kecil dan sederhana?
"Pak Radit, Anda... Anda bisa makan di luar sana. Saya..." Elina merasa tidak enak. "Saya kan... hanya orang biasa. Saya tidak tahu apa yang bisa saya sajikan untuk Anda."
Radit menatapnya sejenak, lalu dengan suara pelan namun pasti, dia berkata, "Jangan khawatir. Saya hanya lapar, dan saya pikir sarapan bersama kamu akan lebih menyenangkan. Lagipula, saya sudah terbiasa dengan hal-hal yang tidak terduga."
Elina merasa hatinya mencelos mendengar itu. "Tapi saya..." dia terdiam, merasa bingung. Dalam pikirannya, dia berusaha menenangkan diri. "Baiklah," akhirnya Elina mengalah. "Masuklah kalau begitu. Saya juga belum sarapan."
Radit hanya tersenyum tipis setelah mengetahui kalau semuanya akan jadi seperti ini. Apalagi dia tahu kalau semuanya jadi begini.
Dia memang tadi langsung berangkat ke sini untuk menjemput Elina dan kebetulan sekali dia belum sempat makan. Terlebih dia semalam tidak bisa tidur karena memikirkan Elina terus.
"Pak Radit tidak tahu malu sekali, masa minta makan sama orang miskin seperti saya."
Elina sengaja menyindir Radit, dia kan orang kaya, bisa sarapan di mana saja sesuai dengan kemauannya. Kenapa juga malah milih makan bersama dengan dirinya.
Menurutnya juga ini sedikit aneh, laki-laki itu seolah mendekati dirinya dengan berani.
"Jadi kamu tidak mau memberikan saya makan?" ujar Radit.
Gawat, kalau sampai bosnya itu marah dengan dirinya. Bisa-bisa nanti dia dipecat dari kantor. Elina tidak mau kalau sampai hal itu terjadi dengan dirinya.
"Cih yaudah masuk, saya juga belum sarapan."
Elina tidak mempunyai pilihan lain sekarang. Akhirnya dia mempersilahkan bosnya itu untuk masuk bersama dengan dirinya. Setidaknya semuanya sudah dia atur dengan baik sekarang.
"Terimakasih banyak."
Radit mengatakan itu dan dia duduk sambil menunggu Elina yang akan memasak untuk dirinya. Dia diam-diam memperhatikan leher jenjang Elina. Wanita itu terlihat mengikat rambutnya dengan rapi.
Wanita itu tengah masak sekarang dan dia merasa senang ketika memperhatikan Elina.
Radit diam-diam mengambil ponselnya dan dia memfotonya, rasanya sangat bagus sekali ketika melihat Elina yang tengah masak sekarang.
"Wanita itu terlihat cantik," puji Radit tanpa sadar.
Dulu mantan istrinya tidak pernah mau masak untuk dirinya, maklum saja dulu mereka menikah bukan karena cinta. Dia dengan istrinya hanya sekedar perjanjian bisnis saja. Wanita egois yang membius dirinya karena ingin anak untuk menguasai hartanya. Tetapi sayang ketika wanita itu melahirkan anaknya, wanita itu tidak bertahan lama dan malah meminta maaf padanya.
Begitu kehidupan dirinya dulu dengan mantan istrinya. Tidak ada kebahagiaan, bahkan ketertarikan sama sekali.
Berbeda dengan saat dia berdekatan dengan Elina. Dia malah merasa tertarik dan tubuhnya tidak bisa membohonginya. Seolah menginginkan wanita itu, tetapi dia berusaha untuk menahannya. Dia tidak ingin membuat sesuatu yang buruk untuk dirinya.
"Pak Radit melamun?" tanya Elina ketika melihat laki-laki itu malah terdiam sambil melamun.
"Eh, sudah jadi?" tanya Radit terkejut ketika Elina sudah dengan cepat menyiapkan makanan untuk dirinya.
Elina lantas duduk di dekat Radit. Dia merasa lega karena semuanya sudah jadi lebih baik sekarang.
"Saya membuat nasi goreng saja. Semoga Pak Radit suka," ujar Elina.
"Terimakasih."
Radit hanya mengatakan itu dan dia mengambil sendok yang ada di meja. Dia mencoba untuk mencicipi makanan buatan Elina.
Baru satu suap dia langsung terdiam sejenak, tidak menyangka kalau semuanya akan jadi lebih baik. Bahkan dia merasa lega karena bisa melihatnya dengan baik.
"Bagaimana rasanya?" tanya Elina yang memang penasaran dengan Radit. Dia sendiri pun penasaran dengan rasanya.
"Menurut kamu, rasanya seperti apa?" tanya Radit yang bertanya balik pada Elina.
Elina malah memutar bola matanya jengah ketika mendengar hal ini. Tidak paham laki-laki itu sepertinya dengan yang dia rasakan.
"Iya tentu saja masakan buatan saya itu paling enak."
Elina mengatakan itu dengan percaya diri. Dia yakin kalau masakan buatan dirinya memang sangat bagus. Dia juga suka dengan makanan yang dia buat.
"Berarti juga itu jawabanku," jawab Radit dengan santai.
Elina malah dibuat kesal dengan tingkah dari Radit, bisa-bisanya laki-laki itu malah berpikir seperti itu padanya. Dia jadi sedikit merasa tidak nyaman dengan ini.
"Terserah deh."
Elina memutar bola matanya jengah, percuma saja dia berdebat dengan bosnya itu. Toh dia tidak akan memang juga. Malah dia sendiri yang dibuat malu sekarang.
Elina kembali makan dengan lahap, tanpa sadar kalau Radit diam-diam memperhatikan wanita itu yang tengah makan.
Bibir yang terkena minyak karena makan nasi goreng membuat Radit malah meneguk salivanya. Dia sendiri tidak tahu harus berbuat apalagi sekarang.
"Kenapa Pak Radit melihat saya terus?" tanya Elina yang habis makan tiba-tiba menjadi gugup.
Radit lalu mengambil tissue yang ada di meja dan diam-diam dia langsung mengusap bibir Elina dengan lembut. Rasanya dia ingin sekali melahap bibir tersebut tetapi dia mencoba untuk menahannya sekarang.
"Ada sisa nasi dekat bibirmu," ujar Radit yang tentu saja berbohong. Dia sendiri tadi tanpa sadar malah ingin mengusap bibir tersebut.
"Masa sih?" ujar Elina yang memang selalu makan dengan rapi.
Radit yang merasa salah dan takut dicurigai pun akhirnya memutuskan untuk langsung berdiri setelah selesai makan.
"Ayo Elina, kita hampir telat. Saya gak mau kalau kita jadi terlambat ke kantor gara-gara kamu," kata Radit mengalihkan pembicaraan mereka berdua sekarang.
Dia sendiri pun tidak ingin kalau sampai terjadi sesuatu dengan dirinya. Setidaknya semuanya sudah dia atur dengan baik.
"Siapa suruh Pak Radit mau menjemput saya ke sini. Salah sendiri dong," ketus Elina yang tidak mau disalahkan. Bagaimana pun semuanya gara-gara bosnya itu.
"Elina jangan banyak membantah kalau tidak ingin saya pecat!" Radit mengatakan itu dan dia sudah lebih dulu keluar dari rumah kontrakan Elina. Dia berjalan menuju ke arah mobilnya yang memang terparkir di depan.
"Bos sialan!" umpat Elina yang benar-benar dibuat kesal sekarang.
BERSAMBUNG