“Dion.”
Asila masih berdiri di dekat ranjang ketika suara itu keluar dari mulutnya.
Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya sejak tadi,dan kalau tidak dikeluarkan sekarang, dia yakin kepalanya akan meledak.
Dion yang sudah setengah menutup pintu kamar berhenti tapi Tidak langsung menoleh. Seolah mempertimbangkan apakah suara Asila layak mendapat reaksinya,kemudian dia menoleh perlahan.
“Ada yang mau kamu tanyain?,”katanya kemudian.
Asila mengangguk pelan.
“Iya.”
Dion menghela napas pendek, Dia masuk kembali ke dalam kamar. Hanya bersandar di dinding, tangannya terlipat di d**a,
“Kamu mau dengar versi jujurnya,” kata Dion,
“atau versi yang bikin kamu bisa tidur nyenyak malam ini?”
Asila menatapnya lurus.
“Aku mau versi jujur.”
Bibir Dion melengkung tipis.
“Baiklah kalau kamu mau aku jujur.”
“Sebenernya, Aku udah punya pacar.”
Ucap Dion datar. Asila berkedip,
Otaknya butuh beberapa detik untuk mencerna perkataan Dion barusan.
“Oh.”
Cuma itu kata yang keluar,Agak Syok.
“Namanya Naila Puri,” lanjut Dion.
“Dia seorang Model.”
Asila tertawa kecil.
“Pantesan.”
Dion mengernyit tipis.
“Pantes apa maksud kamu?”
“Pantesan kamu nyari istri yang nggak penting kayak aku,” jawab Asila.
“Pacarnya aja level publik figur.”
Dion tidak menanggapinya, hening,
“Masalahnya,”katanya datar.
“Naila nggak mau nikah.”
Asila menatapnya lagi,Kali ini lebih fokus ke arah Dion.
“Dia bilang nikah bakal ngekang hidupnya,” lanjut Dion.
“Dan dia nggak mau hidupnya diatur sama siapa pun.”
Asila mengangguk pelan.
“Dan Aku harus nikah.”
Nada Dion tetap sama.Datar
“Karena keluarga,” tebak Asila.
“Lebih tepatnya,” Dion meluruskan,
“Nenek aku yang maksa aku buat nikah.”
Asila mengerutkan dahi.
“Nenek?”
“Pemilik Wijaya Group.”
Nama itu berat, kepala Asila serasa diketuk dengan palu. Asila terdiam,Dia merasa nama itu terlalu menakutkan untuk seorang gadis sepertinya.
“Perusahaan keluargaku bukan warisan tanpa syarat,” lanjut Dion.
“Aku harus layak buat dapet bagian aku.”
“Layak versi nenek kamu.”
“Iya.”
Asila bersandar ke meja.
“Kriteria nenek kamu emang seperti apa?”
“Stabilitas hidup,” jawab Dion cepat.
“Dan reputasi.”
Asila mendengus pelan.
“Dan kamu dinilai nggak stabil karena image playboy.”
“Iya.”
Jawabnya tanpa filter.
“Jujur banget,” gumam Asila.
“Percuma kan kalau aku bohong sama kamu.”
Hening. Asila menarik napas panjang.
“Jadi… kamu butuh istri.”
“Aku butuh pengakuan,” Dion mengoreksi.
“Nikah itu cuma bukti buat nenek aku.”
Asila menatapnya lama.
“Kamu bilang itu, santai banget.”
“Karena memang begitu kenyataanya.”
“Dan aku?”
Asila menelan ludah.
“Aku cuma alat juga ?”
Dion tidak langsung menjawab. Namun, keheningan itu adalah jawabannya.
“Aku bukan pilihan pertama,” lanjut Asila.
“Bahkan mungkin bukan pilihan yang kedua.”
“Aku nggak bilang gitu.”
“Tapi faktanya iya.”
Dion menatap Asila lurus.
“Asila,” katanya akhirnya,
“aku memang nggak berniat nawarin cinta buat kamu.”
Asila tersenyum pahit.
“Syukurlah.”
“Aku menawarkan keamanan.”
“Dengan harga status sebagai istri kamu.”
“Iya.”
Asila mengangguk.
“Aku dapat keamanan,”katanya lirih.
“Kamu dapat perusahaan.”
Dion menajamkan pandangan.
“Aku nggak sejahat itu.”
“Tapi juga nggak sebaik itu,” balas Asila cepat.
Dion diam.
“Aku perlu tahu satu hal,” kata Asila kemudian.
“Kalau aku nolak… apa yang bakal kamu lakukan?”
"Aku akan cari orang lain.”
Jawabannya terlalu cepat,membuat Asila merinding.Asila tertawa kecil,merasa hidupnya sangat tidak berharga.
“Konsisten banget ya kamu.”
“Efisien.”
“Dan kalau aku nerima?”
“Hidup kamu bakal berubah.”
“Itu ancaman atau janji?”
“Fakta.”
Asila menghela nafas panjang,rasanya pingin teriak memaki Dion sekarang juga,
“Kamu sadar nggak sih, kamu lagi ngomongin hidup orang kayak ngomongin proyek?”
“Karena buat aku, ini memang proyek.”
Jawaban itu dingin,tanpa perasaan.
Asila terdiam lama.
“Asila,” kata Dion lagi, “aku nggak butuh jawabannya sekarang.”
“Tapi waktu aku terbatas.”
“Kapan?,” tebak Asila.
“Dalam waktu Sebulan,nenek aku ngasih kesempatan itu.Satu bulan buat mencari istri yang sesuai dengan kriterianya.”
Asila mengangkat kepala.
“Satu bulan buat nikah?”
“Satu bulan buat ngenalin calon istri ke nenek aku,” jawab Dion.
“Dan bikin dia yakin.”
“Kalau nggak?”
“Aku kehilangan posisi aku.”
Asila menatap Dion dalam-dalam.
“Bagaimana dengan pacar kamu?”
“Naila sudah tahu semuanya.”
“Dia tahu kamu nyari istri lain?”
“Iya.”
“Dan dia setuju?”
“Dia lebih memilih kebebasan.”
Asila menghela napas panjang.
“Gila.”
Dion mengangguk kecil.“Aku sudah sering denger kata kata itu.”
Asila berjalan ke jendela,melihat kota dari tempatnya berdiri.Terlihat Lampu-lampu kecil,dan hidup orang lain yang berjalan normal.
“Lucu ya,” katanya pelan.
“Aku kabur dari om-om…”Dia menoleh ke arah Dion. “…buat ditawarin kontrak nikah sama CEO kejam seperti kamu.”
Dion menatapnya tanpa berkedip.
“Kamu masih punya pilihan.”
Asila menoleh balik. “Aku mau jujur juga.”
“Silakan.”
“Aku nggak cinta sama kamu.”
“Itu Bagus,kan.Jadi nggak ada yang perlu sakit hati yang nggak penting.”
“Aku juga nggak mau jadi selingan.”
“Kamu bukan selingan.”
“Tapi kamu masih punya pacar.”
Dion terdiam Lama.
“Asila,” katanya akhirnya,
“kalau kamu jadi istri aku, posisi kamu jelas.”
“Dan posisi dia?”
Dion menghela napas.“Ribet.”
HP Dion bergetar,Dia melihat layar.Lalu wajahnya berubah,menjadi lebih hangat.
“Naila.”
Dion mengangkat telepon tanpa menjauh.
“Halo.”
Suara perempuan terdengar samar, lembut. Satu kalimat Dion terdengar jelas,
“Dia sedang ada di sini sama aku.”
Asila membeku.
“Iya,” lanjut Dion.
“Cewek yang aku ceritain kemarin.”
Hening,telepon ditutup.
“Kamu barusan,”
“Iya,” potong Dion.
“Dia tahu kamu ada di apartemen aku.”
Asila tertawa kecil.
“Keren banget.”
“Asila,” kata Dion dingin,
“kalau kamu mundur sekarang, aku ngerti,kok.”
Asila menatapnya lama. “Aku nggak mau bilang iya.” “Tapi juga nggak nolak.”
Dion mengangguk,Memahami pilihan Asila yang mungkin sulit sekarang.
“Tapi aku mau satu hal.”
“Apa itu?”
“Kalau aku sampai bilang iya,” suara Asila rendah,
“Aku mau ketemu nenek kamu dulu.” “Sendirian.”
Hening.
Dion menatap Asila lama.
“Kalau kamu ketemu nenek aku...
hidup kamu nggak akan pernah tenang lagi.”
Asila menatap balik. Tidak gentar.
“Justru itu yang mau aku pastikan.”
Dion menatapnya lama.
“Kamu baru saja mengetuk pintu yang nggak semua orang berani sentuh.”
“Dan nenekku… nggak pernah menyukai perempuan yang menantangnya.”