“Turun.”
Asila menoleh cepat ke arah Dion.
“Kita mau ke mana?”
“Ketemu seseorang.”
Nada suara Dion datar, tapi rahangnya mengeras, seolah ada sesuatu yang ingin ia sembunyikan.
“Mau ketemu siapa?” tanya Asila.
Dion mematikan mesin, turun lebih dulu, lalu mengunci mobil setelah memastikan Asila turun dari sana.
“Kamu nggak perlu banyak tanya.”
Asila menghela napas, tapi tetap mengikuti langkah Dion masuk ke sebuah kafe rooftop. Tempatnya tenang. Bersih. Mahal. Bukan tempat untuk sembarang orang nongkrong.
Dan saat itulah Asila melihatnya.
Seorang perempuan duduk di dekat jendela. Memakai hijab warna krem.
Kulitnya cerah. Wajahnya halus. Senyumnya tenang seperti bidadari yang turun dari kahyangan.
Pakaiannya sederhana, tapi auranya… beda.Cantik.
Asila refleks berhenti melangkah.
“Itu...”
Asila menunjuk tanpa sadar. “Pacar kamu?”
Dion menoleh sekilas.
Tatapannya langsung berubah.Lebih lembut.
“Hmm..”
Jawaban itu singkat, tapi cara Dion menatap perempuan itu membuat d**a Asila langsung terasa sesak.
Jantung Asila seperti ditekan.
“Namanya Naila,” lanjut Dion singkat.
Nada suaranya menurun. Lebih hangat. Sangat berbeda dengan saat ia berbicara pada Asila.
Asila menelan ludah.
Dalam hati cuma bisa bergumam:
Wah… cantik banget.Sholehah lagi.
Dion sudah berjalan lebih dulu.
Fokusnya sudah sepenuhnya berubah kepada Naila.
Asila terpaksa mengikutinya.
Begitu mereka mendekat, Naila berdiri. Senyumnya lembut. Tatapannya langsung tertuju pada Dion.
“Akhirnya kamu datang juga,” kata Naila.
Suaranya halus. Sangat tenang.
“Iya,” jawab Dion.
Nada itu… lembut.
“Maaf,Aku telat sayang...”
Asila tercekat.
Naila menggeleng. “Nggak apa-apa.”
Lalu…
Tatapan Naila bergeser ke Asila.
Tatapan itu membuat Asila refleks meluruskan punggung.
“Oh,” kata Naila pelan. “Ini... siapa?”
Dion menoleh ke Asila.
Tatapannya dingin.
“Asila.”
Hanya itu.Tanpa perkenalan lebih jauh.
Naila tersenyum. “Hai, Asila.”
“H-hai,” balas Asila gugup.
Mereka duduk.
Dion duduk di samping Naila. Jaraknya dekat.Sangat dekat
Asila duduk di seberangnya.Sendirian. Sunyi beberapa detik.
Naila akhirnya memecah keheningan.
“Kamu yang Dion ceritakan semalam?”
Asila terdiam. Menoleh ke Dion.
“Kamu ceritain tentang aku sama Dia?”
Dion menjawab tenang.
“Iya.”
Nada suaranya ringan. Tanpa ekspresi. Naila mengangguk.
“Maaf kalau aku terkesan tiba-tiba mau ketemu.”
Asila tersenyum kaku. “Nggak apa-apa.”
Padahal dalam hati:
Ini apa-apaan sih.
Naila melipat tangannya di atas meja. “Asila, aku mau jujur.”
Asila langsung menegang.
“Dion bilang kamu lagi dalam situasi yang nggak aman.”
Asila melirik Dion. “Kamu cerita sampai sejauh itu?”
Dion mengangguk. “Aku nggak bisa bohong sama dia.”
"Ke dia. Bukan ke aku!," suara hati Asila geram.
Naila menatap Asila dengan wajah penuh empati. “Aku ikut prihatin.”
Asila tersenyum kecil. “Terima kasih.”
Naila menghela napas pelan. “Dan soal rencana Dion…”
Asila langsung menahan napas.
“…aku awalnya setuju.”Nadanya berubah dingin.
Asila menoleh cepat ke Dion.Dion menatap lurus ke depan.Tidak bereaksi sedikitpun.
“Tapi,” lanjut Naila.
Asila membeku.
“Tapi aku perlu lihat langsung.”
“Maaf, mau Lihat apa ya?” tanya Asila refleks.
Naila menatapnya lembut. “Ceweknya.”
Hening.
Asila merasa dirinya seperti barang yang sedang dinilai harganya.
“Dan sekarang?” tanya Asila pelan.
Naila tersenyum tipis.
“Sekarang aku paham kenapa Dion memilih kamu.”
Asila tercekat.
“Memilih?”
Dion akhirnya bicara. “Naila,apa apaan sih kamu.”
Nada suaranya rendah.Tapi tetap lembut, Naila mengangkat tangan.
“Sebentar, jangan disela. Aku belum selesai bicara.”
Dia menoleh ke Asila lagi.
“Kamu cantik.”
Asila refleks menggeleng.
“Nggak,aku nggak …”
“Cantik yang nggak dibuat-buat,” lanjut Naila.
“Dan itu berbahaya.” Asila terdiam.
“Berbahaya buat siapa?” tanya Asila.
Naila menatap Dion. “Buat dia.”
Asila mengernyit. “Aku bahkan nggak mau nikah sama Dion.”
Naila tersenyum samar. “Itu yang bikin kamu lebih berbahaya.”
Dion menghela napas. “Naila, kamu yang minta kita ketemu.”
“Iya,” jawab Naila. “Karena aku perlu memastikan satu hal.”
Dia menatap Asila serius. “Kamu tahu, kan. Posisi kamu di hidup Dion kalau kamu menerima tawaran itu?”
Asila menjawab jujur. “Aku... akan jadi istri kontraknya Dion.”
Naila mengangguk. “Hemm...,Dan kamu siap hidup di bawah bayanganku?”
Kalimat itu menusuk d**a Asila.Dia tersenyum tipis.“ Tapi, Aku nggak mau berada di bayangan siapa pun.”
Dion menoleh tajam. “Asila,”
“Aku cuma jawab jujur,” potong Asila.
Naila tersenyum. Kali ini lebih dingin.
“Bagus.” Dia berdiri.
“Makasih ya sudah mau datang ketemu sama aku.”
Asila ikut berdiri, bingung. “Ini…udah selesai?”
“Untuk hari ini,sudah.” jawab Naila.
Sebelum pergi, Naila menoleh ke Dion.
“Nanti... Kita perlu ngobrol lagi.”
Nada itu… menunjukkan bahwa dia adalah pemilik Dion seutuhnya.
Lalu…
dia menoleh ke Asila.
“Dan kamu,” kata Naila pelan tapi jelas, “Pikirkan baik-baik sebelum bilang iya.”
Naila pergi. Asila berdiri kaku.
“Dia…”
Asila menelan ludah.
“Dia sangat berbeda dari yang aku bayangkan.”
Dion menatap pintu keluar lama sekali.
“Iya.”
Nada suaranya lembut. Hampir penuh rasa. Asila menatap Dion.
“Dan aku baru sadar satu hal.”
“Apa?”
Asila berkata pelan:
“Masalah kamu ternyata lebih ribet dari masalah aku.”
Dion tersenyum tipis. “Kamu baru tahu 'kan sekarang?”
Asila menghela napas panjang. Dia merasa…
menjadi istri kontrak Dion bukan cuma soal keamanan.
Tapi juga…
perang.