“Asila,” panggilnya singkat.
Asila menoleh.
“Tunggu di sini sebentar.”
Nada itu bukan permintaan, Asila menurut. Dion berjalan menjauh beberapa langkah, mengangkat ponselnya. Asila bisa melihat dari kejauhan,nama Naila terpampang di layar. Dion menjawab cepat.
“Iya,” katanya pelan.
Nada suaranya berubah. Lebih hangat dan sangat lembut.
“Nggak apa-apa. Aku ngerti kok.”
Asila menunduk. Dia tidak perlu mendengar lebih jelas untuk tahu:
Dion sedang menenangkan pacarnya.
“Iya… aku juga ngerasa nggak enak,” lanjut Dion.
“Hari ini berat banget buat kamu.”
Hening sebentar.
“Nggak,” katanya lagi.“Aku di mobil.”
Asila hanya bisa menggigit bibir mendengar percakapan itu.
“Kamu jangan mikir yang aneh-aneh dong ,” ucap Dion lembut.
“Aku tetap disamping kamu,Sayang...”
Kalimat itu membuat d**a Asila terasa diperas.
Dion mengakhiri telepon, lalu kembali ke mobil. Begitu pintu tertutup, udara di dalam langsung berubah.
“Naik,” kata Dion singkat.
Asila masuk tanpa suara.Mobil melaju meninggalkan cafe.
Suasana Hening,hanya suara mesin dan napas Asila yang seolah terdengar terlalu keras.
“Kamu dengar apa barusan?” tanya Dion tiba-tiba. Asila menoleh cepat.
“Dengar apa?”
Dion melirik sekilas. “Bagus deh kalau kamu nggak denger.”
Nada itu dingin,nada Peringatan.Asila menatap jalan,kaku.
“Dia marah sama kamu?” tanya Asila pelan.
Dion menghela napas.“Dia kecewa.”
“Karena aku?”
Dion tidak langsung menjawab. “Karena situasi kita,” katanya akhirnya.“Kamu jangan besar kepala dulu.”
Asila menelan ludah. “Aku nggak pernah minta ketemu sama dia,” ucap Asila.
“Aku tahu itu tanpa kamu jelaskan.” jawab Dion agak menegang.
“Tapi sekarang kamu sudah masuk ke hidup aku.”
Asila menoleh.
“Dan hidup aku,” lanjut Dion datar. “Punya aturan.”
Asila menggenggam tasnya erat.Takut.
“Aturan tentang apa?”
Dion berhenti mendadak lampu merah.Membuat Asila mencondongkan badan dengan keras.Asila Terkejut.
"Awwwhh..sakit."
Tapi Dion tidak merespon.
“Kamu nggak boleh bikin dia ngerasa terancam.”
“Aku bahkan --,”Potong Asila.
“Jangan membantah,kamu cukup mendengarkan perkataanku!,”potong Dion.
Tatapannya menusuk.
“Kamu bisa ada di hidup aku, tapi kamu nggak boleh pernah merasa lebih penting dari Naila.”
Asila tercekat,Dion menatap lurus ke depan.Lampu hijau kembali menyala dan mobil kembali melaju.
Asila menahan napas,lalu berkata .“Aku nggak berniat ngambil posisi siapa pun.”
“Baguslah kalau begitu,” kata Dion.
“Itu berarti kamu paham apa peran kamu.”
Asila menatap keluar jendela. Peran, kata itu tajam,mengiris hati Asila..Hampir dia menangis,tapi dia tahan. Beberapa menit berlalu.
“Kamu jadi ikut ke rumah Keluarga Wijaya?” tanya Dion.
Asila mengangguk.“Ya.Aku mau lihat sejauh apa hidup kamu.”
Dion menoleh sekilas. “Kamu yakin?”
Asila menatapnya balik. “Kalau aku mundur sekarang, aku bakal terus takut.”
Dion tersenyum tipis. “Kamu berani juga ya,” katanya.
“Tapi jangan salah sangka.” “Asila,” lanjut Dion, suaranya turun.
“Keberanian kamu nggak bikin kamu kebal.”
Asila menelan ludah. “Terserah.”
Mobil mulai memasuki kawasan Elite.
Pagar tinggi menjulang dengan penjagaan yang ketat. Asila mendadak sadar, kalau hidup Dion bukan dunia yang bisa dimasuki sembarang orang.
“Keluarga aku nggak suka kejutan,” kata Dion.
“Jadi nanti kamu harus jaga sikap didepan mereka.”
“Aku selalu jaga sikap,” jawab Asila.
Dion terkekeh pelan.“Itu pikiran kamu.”
Mobil berhenti di depan gerbang besar.
Sebelum turun, Dion menoleh ke Asila, Tatapannya tajam.
“Ingat satu hal,” katanya pelan.
“Di depan orang lain, aku bisa kelihatan sangat melindungi kamu.”
Asila menahan napas.
“Tapi kalau kamu bikin Naila tersakiti,” lanjut Dion,
“aku sendiri yang akan bikin kamu nyesel.”
Asila menatapnya. “Aku nggak minta dilindungi,” katanya pelan.
Dion tersenyum kecil. “Masalahnya--,” Dion melanjutkan,
“Kamu sudah ada di posisi yang bikin kamu butuh perlindungan aku.”
Pintu mobil terbuka,Dion turun lebih dulu.Dia berubah menjadi Dion yang tenang dan berwibawa.Asila mengikutinya dari belakang, Dan saat Asila menginjakan kaki di halaman rumah Keluarga Wijaya,
ia harus sadar dan mengingat perkataan Dion, di luar, Dion adalah pelindung.
Di dalam mobil, Dion adalah ancaman.
Dan ia baru saja memilih untuk tetap melangkah ke dalam jebakan itu.
Gerbang besi rumah Wijaya menutup perlahan di belakang mereka.
Asila refleks berhenti melangkah.
Rumah itu kelihatan terlalu besar untuk gadis yatim piatu sepertinya.
“Jangan bengong kayak orang bodoh,” kata Dion tanpa menoleh.
“Ayo cepetan jalan.”
Asila menghela napas, lalu menyusulnya dengan cepat.
Langkah Dion mantap.Begitu masuk kerumah,Asila disambut oleh Pelayan Rumah wijaya.Ruang tamunya sangat luas. Langit-langit tinggi, Semuanya terasa asing buat Asila. Belum sempat Dia menyesuaikan diri, suara tongkat menghantam lantai terdengar.
Tok.Tok.Tok.
Seorang perempuan tua berdiri di dekat sofa utama,posturnya tegak.Rambut putihnya disanggul rapi.Tatapannya tajam dan dingin.
“Itu Nyonya Andini Wijaya,” bisik Dion pelan. “Nenek aku.”
Asila refleks meluruskan punggung.
“Oma,” sapa Dion.
Nada suaranya berubah, lebih sopan dan hangat. Nyonya Andini menatap Dion sebentar, lalu pandangannya beralih ke arah Asila.
“Siapa dia ?” tanyanya datar.
“Ini Asila,Oma,” jawab Dion tenang. “Perempuan yang aku ceritakan.”
Asila menunduk sopan. “Selamat sore, Nyonya.”
Nyonya Andini tidak membalas senyum.
Ia berjalan mendekat, mengitari Asila perlahan. Seperti menilai barang di pameran.
“Kamu kelihatan masih sangat muda,” katanya.
“Usia saya dua puluh tahun,Nyonya,” jawab Asila jujur.
“Hmm.”
Nyonya Andini duduk di sofa utama. Memberi isyarat kepada Asila.
“Duduk.”
Asila duduk di sofa. Dion ikut duduk di sampingnya, tapi jelas, posisinya bukan sebagai pengendali.
“Asila,” kata Nyonya Andini pelan tapi tegas.
“Kamu tahu kenapa kamu dipanggil ke sini?”
Asila mengangguk. “Karena Dion ingin menikah.”
“Bukan,” potong Nyonya Andini cepat.
“Karena aku ingin tahu apakah kamu layak.”
Asila menelan ludah.
“Dion,” lanjut Nyonya Andini tanpa menoleh,
“Kamu tidak perlu berbicara,karena semua keputusan ada ditangan Oma.”
Dion mengatupkan rahang.
“Iya, Oma.”
Asila menarik napas.
“Kamu perempuan baik-baik?” tanya Nyonya Andini.
“Saya selalu berusaha jadi baik,” jawab Asila.
“Kamu kerja dimana?”
“Freelance. Kadang bantu katering. Sedang menabung buat buka usaha sendiri.”
“Hm. Ambisius.”
Asila mengangguk. “Aku nggak mau hidup bergantung sama siapa pun.”
Tatapan Nyonya Andini menajam.“Bahkan sama suami kamu nantinya?”
Asila terdiam sesaat. “Kalau aku menikah, aku mau jadi partner. Bukan beban.”
Dion melirik cepat. Ada ketegangan di rahangnya.
“Kamu tahu reputasi cucu aku?” tanya Nyonya Andini.
“Tahu,” jawab Asila. “Playboy.”
Hening.
“Oma,” Dion mulai bicara. “Diam,” potong Nyonya Andini. Ia kembali menatap Asila.
“Kamu tahu apa yang paling aku benci dari Dion?”
Asila menggeleng. “Perempuan.”
Asila kaget. “Maaf?”
“Perempuan yang datang dan pergi,” lanjut Nyonya Andini dingin.
“Tanpa komitmen. Tanpa tanggung jawab.” Asila menunduk.
“Jadi sebelum aku melangkah lebih jauh,” katanya lagi,
“Aku mau tanya satu hal kepada kamu,Asila.”
Nada suaranya berubah. Lebih rendah.“Asila Manisa Putri,”
“Apakah kamu masih perawan?”
Ruangan membeku. Dion berdiri.
“Oma.”
“DIAM!”
Asila menelan ludah, dadanya naik turun.
Pertanyaan itu sangat memalukan buat dia. Tapi Asila mengangkat dagunya dengan tegas.
“Iya,Nyonya,” jawabnya tegas.
“Aku masih Gadis,”
Hening.Dion menoleh cepat,tatapannya berubah, kaget, tegang, dan…Aneh. Nyonya Andini mengangguk pelan.
“Bagus.”
Belum sempat Asila bernapas lega,
“APA?!”
Suara keras datang dari arah tangga.
Seorang perempuan paruh baya turun dengan wajah merah padam. Elegan. Tajam. Penuh amarah.
“Hah?! Siapa ini?!”