“Anda siapa?” Suara Asila terdengar pelan, tapi jelas. Tubuhnya masih kaku, matanya menatap perempuan tua di hadapannya dengan ragu dan gemetar.Perempuan itu justru terdiam.Bibirnya bergetar. Tangannya yang keriput terangkat, seolah ingin menyentuh wajah Asila, tapi tertahan di udara. “Non…” suaranya pecah.“Non Asila…” Air mata jatuh begitu saja dari sudut matanya.Asila mundur setengah langkah. “Maaf, Bu… saya nggak—” Perempuan itu langsung menangis.Seperti seseorang yang menahan rindu bertahun-tahun dan akhirnya tak sanggup lagi menahannya. “Akhirnya…” katanya terisak.“Akhirnya saya menemukan Non Asila.” Asila menoleh ke Dion refleks.Dion berdiri di sampingnya, wajahnya tegang, tapi matanya waspada. Tangannya perlahan menyentuh punggung Asila, “Bu,” Dion bicara tenang tapi tegas.“

