“b******k…!” Dion bangun dengan umpatan kasar.Tangannya menghantam kasur, napasnya berat, rahangnya mengeras. Matanya menatap langit-langit kamar yang kini terasa seperti penjara. Kamar pengantin.Label itu membuat dadanya semakin sesak.Ia duduk, mengusap wajahnya kasar. Ingatan semalam datang berantakan,tapi yang teringat hanya satu hal.Perasaan hampa.Hari pernikahannya sudah lewat,dan bagi Dion itu adalah hari terburuk dalam hidupnya.Dion menoleh ke samping tempat tidurnya,kosong.Tidak ada tubuh perempuan di sana.Ia tertawa pendek, dingin. “Baguslah,” gumamnya. “Setidaknya dia tahu diri.” Padahal… Asila tidak tidur di kamar lain karena tahu diri.Ia pergi karena Dion memunggunginya sejak mereka masuk kamar.Asila berdiri di dapur sejak subuh. Tangannya gemetar saat menuang air panas k

