“Dion…” Suara itu masuk ke telinganya saat ia sedang menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca apa pun. Dion tidak langsung menjawab.Ia menunggu,menunggu sampai suara di seberang sana terdengar tidak sabar. “Dion, kamu dengar aku?” “Aku dengar,” jawabnya akhirnya. Datar. “Ada apa?” Di seberang sana, Naila menarik napas panjang.“Aku… aku sudah mengugurkan kandunganku.” Kalimat itu jatuh begitu saja.Tidak ada tangisan,tidak ada penyesalan. Seolah itu keputusan biasa.Tangan Dion berhenti mengetuk meja.Dia sudah tida peduli apapun yang dikatakan Naila barusan. “Kamu dengar aku, kan?” suara Naila mulai bergetar. “Aku melakukan itu demi kamu, Dion.” Sunyi.Beberapa detik berlalu. “Demi aku?” Dion mengulang pelan. “Iya,” jawab Naila cepat.“Aku tidak mau kamu terbebani. Aku tidak

