“Aku pamit pulang dulu.” Naila berdiri di dekat pintu apartemen. Wajahnya tenang,Asila berdiri kaku beberapa langkah dari sofa.Tangannya dingin.Jantungnya berdegup kencang. “Iya, Kak,” jawab Asila pelan. Naila menatapnya sebentar.Dengan tatapan yang sulit dibaca. “Kamu kelihatannya capek banget,” kata Naila akhirnya. Asila tersenyum tipis. “Sedikit.” Naila mengangguk,lalu menoleh ke Dion. “Aku harap kamu tahu apa yang kamu lakukan.” Dion tidak menjawab.Rahangnya mengeras.Naila tidak memaksa.Ia membuka pintu,melangkah keluar,lalu berhenti sejenak. “Oh ya,” katanya tanpa menoleh."Aku yang menyuruh kamu menikah dengan orang lain.Tapi bukan berarti aku ikhlas menyerahkan semuanya.” Pintu apartemen tertutup.Asila masih berdiri di tempat yang sama.Napasnya terasa berat.Dion tidak langsu

