“Siapa yang tidak jelas asal-usulnya?” Tuan Anggara Wijaya berdiri tegak di dekat pintu utama dengan jas hitamnya yang selalu tampak rapi. Ekspresinya datar tapi matanya tajam seperti pisau yang baru diasah. Mama Meli yang tadi berdiri dengan d**a naik turun, langsung menoleh dan wajahnya sedikit berubah. “Pa,”suaranya menjadi lebih lembut. Dion menegang melihat ekspresi papanya, Nyonya Andini mengangkat dagu pelan ketika Tuan Anggara melangkah masuk. Langkahnya mantap,setiap langkah seolah memaku lantai marmer. “Aku bertanya sekali lagi,” ulangnya. “Siapa yang kalian bilang tidak jelas asal-usulnya?” Mama Meli menarik napas dalam,seolah sedang menyiapkan amunisi. “Dion,” katanya sambil menoleh cepat ke arah putranya, “Dia mau menikahi seorang Perempuan Kampung.” Dion mengangkat waj

