Telepon terputus. Asila menatap layar ponsel dengan tangan gemetar.Dadanya terasa sesak. Kepalanya penuh. Satu sisi,keluarga Wijaya.Aturan. Tekanan.Pernikahan kontrak. Sisi lain,Rasya.Ancaman.Masa lalu yang belum selesai. Asila memeluk lutut.Air matanya jatuh tanpa suara. “Kenapa hidup aku ribet banget…” bisiknya. Ponsel Dion bergetar untuk kesekian kalinya. Ia baru menyadarinya setelah menutup panggilan dengan Asila. Dion mengernyit.Menatap layar. Naila (17 panggilan tak terjawab) Dion menghembuskan napas panjang. Menekan nomor itu. Nada sambung.Satu.Dua. “Sayang…” suara Naila terdengar begitu panggilan tersambung.“Kenapa baru nelpon?” Dion terdiam sesaat.“Aku baru lihat,” jawabnya jujur.“Kamu kenapa nelpon berkali-kali?” Hening sebentar di seberang,Lalu suara Naila terdenga

