Mobil Dion melaju seperti anak panah yang dilepaskan tanpa arah. Tangannya mencengkeram setir kuat-kuat,rahangnya mengeras.Lampu-lampu jalanan berubah menjadi garis panjang yang kabur oleh kecepatan. “Nay…” gumamnya. “Nay, kamu kenapa?” Ponselnya masih menempel di telinga, tapi sambungan sudah terputus sejak lima menit lalu. Yang tersisa hanya satu kalimat terakhir yang terus berputar di kepalanya: “Mas Dion… Mbak Naila masuk rumah sakit.” “Kenapa harus hari ini…” desisnya. Dia menekan pedal gas lebih dalam. Klakson mobil lain bersahutan. Beberapa pengendara memaki,namun Dion tidak peduli. Pikirannya kacau. “Nay, kamu jangan macam-macam,” katanya pelan, seolah Naila bisa mendengarnya. “Kamu harus baik-baik aja.” Tangannya sedikit bergetar. Dia mencoba menelpon lagi,nomornya Tid

