Mas Galen: [Sayang, Mas berangkat malam ini. Sepertinya tidak bisa mampir dulu buat pamitan. Mau dibawain oleh-oleh apa nanti dari Bali?] Hei! Kalian jangan meledek Niska, jangan seperti Dikara yang kini mencibirnya, membuat pipi Niska memerah. "Katanya amit-amit?" Ssst! Diamlah. "Kok, sayang-sayangan?" Dikara mengintip Niska yang sedang mesem-mesem depan ponsel, entah sejak kapan dan kapan pula Dikara datang. Tahu-tahu ada di belakang sofa tempat Niska duduk bersandar, sementara anak-anak sedang nonton tayangan kartun. "Mas Galen, kok, yang bilang sayang. Aku, sih, nggak." "Oh. Terus kenapa pipimu merah-merah?" Niska memegang pipinya. "Ini efek kamu ledekin." "Senyum-senyum depan ponsel?" Astaga. "Karena disebut sayang sama Mas Galen dan kamu suka itu, ya?" Ish! "Kara!" Pl