Tubuh Renata merosot kelantai. Dia sana ia menelungkupkan kepala di atas lututnya. Menangis tergugu bahkan sebelum mendengar penjelasan Arkan. "Re..., maaf. Ini yang buat Mas nggak bilang ke kamu kalau lagi sakit. Mas nggak tega lihat kamu nangis." Ucap Arkan dengan tenggirokan terasa tercekat. "Kamu sakit apa lagi sih Mas?" tanya Renata dengan mengangkat kepalanya menatap mata sayu Arkan. "Cuma ada sedikit tumor di otakku Re." "Cuma kamu bilang Mas?" tanya Renata sambil mengusap air matanya kasar. Dia tak habis pikir, dengan ucapan yang keluar dari bibir suaminya. Begitu terlalu menganggap sepele penyakit yang tengah di deritanya. "Kamu menganggap remeh penyakit yang bisa membuat anak-anakmu kehilangan Ayah Mas?" Arkan berjongkok dan membawa Renata ke dalam pelukannya. "Aku nggak a

