Nayla menggenggam botol kecil itu di dalam tangannya. Keringat dingin mulai membasahi telapak, meski udara Bali malam itu hangat. Pandangannya berpindah-pindah antara gelas bening di depannya dan bayangan Adrian yang masih bicara di luar. “Cepat, Nayla… ini kesempatanmu,” bisiknya pada diri sendiri, tapi suaranya hampir tak terdengar. Ia membuka tutup botol itu sedikit, suara klik kecil terdengar, membuatnya langsung menoleh panik ke arah Adrian. Untung pria itu masih di luar, tampak sibuk dengan teleponnya. Jantung Nayla berdegup kencang. Ia mengangkat botol itu, mendekatkannya ke bibir gelas. Cairan bening di dalamnya berkilat samar terkena cahaya lampu. Namun, tangannya berhenti di udara. Ia menggigit bibirnya sendiri. Bagaimana kalau ketahuan? Bagaimana kalau dia mencium rasa aneh

