“A-anu…” suara Nayla bergetar, jemarinya mencengkeram erat ponsel. Ia menunduk, hampir berbisik. “Tadi aku… belum sempat, Tante. Aku ragu…” Napasnya terdengar berat, seperti berusaha mencari alasan. “Adrian terus ada di dekatku. Aku takut ketahuan. Aku… nggak tahu harus bagaimana.” Dalam hati, ia menyesali kata-kata itu. Ucapan yang terlalu jujur, tapi juga penuh kegelisahan. Suara napas berat terdengar dari seberang, lalu disusul nada dingin penuh tekanan. “Nayla, kau pikir kau bisa selamanya menunda?!” tegur Vania, tajam. “Kau ada di sana bukan untuk jalan-jalan atau bersantai. Kalau kau tidak segera melakukannya, kontrak itu tidak akan pernah berakhir!” Ia berhenti sejenak, lalu suaranya merendah tapi terdengar jauh lebih menusuk. “Kau mau selamanya terikat padanya? Mau hidupmu ha

