Adrian berhenti hanya sejengkal dari bibirnya. Rahangnya mengeras, napasnya kian berat. Sejenak, waktu terasa beku. Namun alih-alih menyentuhnya, Adrian justru memejamkan mata rapat-rapat. Seolah berperang dengan dirinya sendiri, ia akhirnya menggertakkan gigi, lalu menarik wajahnya menjauh dengan kasar. Nayla terhenyak, masih tak bisa bernapas lega. Ia tak tahu apakah harus merasa lega atau… kecewa tanpa alasan yang jelas. Adrian mendesah berat, seakan mencoba mengusir panas yang mendidih di tubuhnya. Dengan kasar ia bangkit dari kasur, duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajahnya. Punggungnya tegang, bahunya naik turun karena napas yang tak terkendali. Tangannya mengepal kuat di atas paha. “Sial…” gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri. Ia tahu ada sesuatu yang tak beres. Ca

