Begitu masuk ke kamar utama, Nayla langsung terdiam. Ranjang king size dengan hiasan bunga berbentuk hati terhampar di depan matanya. Kelopak mawar bertaburan di sprei putih, lilin aromaterapi menyala di sudut ruangan, dan sebotol champagne sudah diletakkan di meja kecil dengan dua gelas kristal. Pipi Nayla terasa panas. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan ekspresinya, sementara Adrian berjalan tenang ke arah lemari, seolah dekorasi itu tidak ada artinya. “Taruh barangmu di sana,” ucap Adrian singkat, menunjuk ke sisi ranjang. Nayla mengangguk cepat, tapi langkahnya kaku. Dalam hati ia hanya bisa mengulang-ulang, Bagaimana aku harus melewati malam-malam di kamar ini… Nayla menurunkan kopernya di sisi ranjang yang ditunjuk Adrian. Ia mencoba fokus membuka resleting, merapikan isi koper

