Refleks, tubuhnya menegang. Matanya membesar, napasnya tercekat. Ia baru sadar ada sesuatu di wajahnya ketika sentuhan ringan namun tegas itu menyapu sudut bibirnya. Adrian tidak berkata apa-apa. Wajahnya tetap tenang, jarak mereka terlalu dekat hingga Nayla bisa melihat jelas sorot matanya, bisa mencium aroma maskulin yang samar dari tubuhnya. Waktu terasa berjalan lambat. Hanya beberapa detik. Adrian lalu menarik tisu, kembali duduk dengan ekspresi datar seolah tidak ada hal istimewa yang terjadi. “Makanlah dengan rapi,” ucapnya singkat, suaranya rendah tapi terdengar jelas. Nayla menunduk buru-buru. Tangannya refleks meremas sendok, wajahnya memanas sampai telinganya ikut merah. Dalam hati ia berteriak panik, Ya Tuhan… barusan itu apa…? Nayla langsung tersentak begitu menyadari apa

