Ia bisa merasakan sapu tangan itu menyapu pelan kotoran di kulitnya. Gerakan Adrian begitu telaten, seolah bukan hanya sekadar membersihkan, melainkan memastikan tidak ada noda yang tertinggal. Nayla membeku. Matanya terpaku pada wajah Adrian dari jarak sedekat itu—rahang tegasnya, garis hidungnya, mata yang fokus pada tangannya. Jantungnya berdetak begitu keras, hingga ia takut Adrian bisa mendengarnya. “Lain kali, hati-hati,” ucap Adrian akhirnya, suaranya rendah dan tenang, jauh berbeda dari nada dingin sebelumnya. Kata-kata sederhana itu membuat tenggorokan Nayla tercekat. Ia hanya mampu mengangguk kecil, matanya berkaca-kaca tapi buru-buru ia tundukkan wajah agar tak terlihat. Adrian melipat kembali sapu tangannya, lalu berdiri. “Bisa jalan?” tanyanya singkat. “B-bisa…” suara Nay

