Malam makin larut. Jam di meja kecil sudah menunjukkan hampir tengah malam. Lampu kamar menyala redup, hanya menyisakan cahaya lembut yang menenangkan. Nayla berbaring di sisi ranjang, matanya terbuka lebar menatap langit-langit. Dari tadi ia gelisah, membolak-balik badan, mencoba tidur tapi gagal. Adrian yang sudah lebih dulu berbaring di sisi lain, akhirnya bergumam pelan, “Kau mau terus berisik seperti itu sampai pagi?” Nayla terlonjak kecil. “Aku enggak berisik.” “Kau sudah menggeliat lima kali dalam sepuluh menit terakhir.” Nayla menggigit bibir. “Aku… susah tidur.” Adrian menoleh. “Kenapa?” Nayla terdiam sebentar, lalu berkata pelan, “Aku enggak tahu. Mungkin kepikiran banyak hal.” “Contohnya?” “Ya… semua ini. Kita. Tante Vania. Dan…” Nayla berhenti, menatap ke arah lain. Pi

