Nayla meletakkan sendok di mangkuk setelah beberapa suapan. Perutnya mulai terasa hangat, meski tubuhnya masih sedikit lemas. Ia menarik napas pelan, lalu menatap Adrian yang duduk di kursi dekat ranjang. “Supnya enak…” ucapnya hati-hati. Adrian hanya mengangguk singkat. “Makan pelan-pelan. Kalau sudah kenyang, jangan dipaksa.” Nayla mengangguk kecil. Ia mengambil sepotong roti, menggigit sedikit sambil melirik Adrian diam-diam. Pria itu sedang menuangkan teh ke cangkir, gerakannya tenang, seperti sudah terbiasa mengurus orang lain. “Aku tidak menyangka… Mas bisa seperti ini,” kata Nayla akhirnya, suaranya nyaris seperti gumaman. Adrian menoleh. “Seperti apa?” “Seperti… sabar, telaten. Biasanya Mas dingin sekali.” Nayla menunduk cepat setelah bicara, seolah takut menyinggung. Adrian

