Bab 17

1252 Kata

Setelah cukup lama, tangis Nayla perlahan mereda. Ia menarik napas panjang, lalu melepas pelukan dengan sedikit canggung. Matanya masih merah, pipinya basah, tapi wajahnya tampak lebih lega. Adrian menatapnya sebentar, lalu berkata pelan, “Duduk dulu.” Mereka berjalan pelan ke bagian pasir yang agak kering. Adrian menepuk tempat di sampingnya, Nayla pun duduk sambil memeluk lutut. Ombak masih terdengar jelas, tapi kini terasa lebih menenangkan. “Aku malu,” ujar Nayla lirih, suaranya serak. “Baru sebentar kita di sini, aku sudah menangis seperti anak kecil.” Adrian menoleh. “Itu bukan kelemahan. Itu manusiawi.” Nayla menunduk. Ia menggambar garis di pasir dengan jari, mencoba mengalihkan rasa canggung. “Mas pernah… kehilangan seseorang?” tanyanya hati-hati. Adrian terdiam sejenak, men

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN