Adrian menempelkan ponsel ke telinganya. Suara Vania terdengar dari seberang, datar tapi menusuk. “Adrian, aku cuma mau tanya… gimana Nayla? Dia sudah melayani kau dengan baik?” Adrian diam beberapa detik, alisnya berkerut. “Apa maksudmu dengan pertanyaan itu?” “Jangan pura-pura tidak tahu,” balas Vania cepat. “Aku yang menyuruh kalian ke Bali. Setidaknya aku berhak tahu apakah dia bisa jalankan tugasnya sebagai istri atau tidak.” Rahang Adrian mengeras. Ia melirik sekilas ke arah Nayla yang masih duduk di sofa, wajahnya menegang. “Van, kau keterlaluan.” “Kenapa? Bukankah itu memang tujuan kita?” suara Vania terdengar semakin ketus. “Aku hanya memastikan semua berjalan sesuai rencana.” Adrian menahan napas, lalu menjawab pendek. “Kalau itu yang kau tanyakan… urus saja pikiranmu send

