Nayla menggigit bibir bawahnya, menunduk semakin dalam. Tangannya meremas ujung gaun, seolah mencari pegangan. “Tante… dia nanya soal… aku. Soal kau.” Adrian diam, menunggu. Tatapannya tajam tapi bukan marah, lebih ke ingin memastikan. Nayla akhirnya melanjutkan, suara bergetar. “Dia tanya… apa aku sudah melayani suamiku dengan baik.” Udara kamar terasa berat. Adrian mendesah pelan, menunduk sebentar, lalu bersandar ke sandaran ranjang. “Jadi sampai sejauh itu.” Nayla menoleh, matanya masih berkaca-kaca. “Aku… aku jawab iya. Aku gak berani bilang yang lain. Aku takut kalau aku salah ngomong, Tante marah atau—” “Hey.” Adrian memotong, menoleh ke arahnya. Tangannya terulur, menyentuh pelan bahu Nayla. “Kau gak perlu ketakutan begitu. Apa pun yang dia katakan, biar aku yang urus. Kau gak

