Wilujeng "Mbak kenal sama orang ini?" Pak Driver yang tidak jadi melajukan motornya bertanya dengan cemas. Mungkin dia pikir, Bekti orang jahat. Tapi memang jahat sih. Dia sudah menggorekan luka yang sakitnya mungkin akan kuingat seumur hidup, namun tak kasat mata juga tidak berdarah. Sakit hati karena dikhianati. "Sa ...." "Saya temannya, Pak." Bekti menjawab, memutus ucapanku. "Bener, Mbak?" Driver yang kutebak seumuran dengan Ibu kembali bertanya memastikan. "Kalau nggak, kita jalan lagi." Aku tidak segera menjawab. Menatap Bekti yang juga tengah menatapku dengan tatapan memohon. Tidak seperti waktu kami bertemu di hotel berbulan lalu, yang kurang bersahabat. "Mbak, gimana?" Pak driver setengah mendesak. "Sebentar saja, Lujeng. Nanti saya antar kamu pulang." Membuang napas,

