Bab 2

1065 Kata
“Oh, hei! Lama tidak berjumpa, Julia,” sapa Mona sambil cipika-cipiki. Dave yang masih termenung itu hanya menatap dari kejauhan. Masih dengan senyum, lirikan, dan pandangan yang sama. Gadis itu tidak pernah berubah meski setahun lebih lamanya tidak bersua. Dave seperti kehabisan kata-kata. Seolah rencana perceraian dirinya dengan Mawa telah direstui semesta. “Long time no see, Mom. How are you? You look so beautiful today,” puji Julia dengan aksennya yang memukau. “Baik. Sangat-sangat baik. Terlebih kedatangan kamu kali ini di waktu yang tepat. Mommy baru saja ingin menjodohkan kamu dengan Dave, tapi kamunya hilang entah ke mana tanpa kabar. Sebenarnya apa yang kamu kejar, Julia?” pungkas Mona tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. “Sorry, Mom. Julia melanjutkan pendidikan S3 di Canada. Julia sengaja tidak mengabari Tuan Dave dan Mommy karena mau memberi kejutan! Mommy pasti bangga karena Julia semakin berpendidikan setara dengan Tuan Dave,” jawab Julia. “Of course, Sayang. Mommy menunggu kamu dan terus mencari kabar. Bahkan Mommy kira kamu sudah berkeluarga.” “Tidak akan, Mom. Julia sudah pernah bilang, bukan? Cinta Julia selamanya hanya untuk Tuan Dave,” kata Julia percaya diri. Sementara Dave yang sejak tadi diam pun akhirnya membuka suara. “Aku sudah menikah. Setahun yang lalu,” ujar Dave lirih. Seketika Julia menoleh cepat, kedua alisnya tertaut sempurna. Mengapa hal ini tidak diberi tahu oleh Mona? “Mom ...?” Julia terdiam, matanya berkaca-kaca. Bahagia yang semula direncanakan saat kedatangannya kelak, kini pupus seketika tanpa jejak. Julia menahan tangisnya, bulir-bulir sebesar biji jagung yang mengepul di ujung matanya, sedikit lagi jatuh membasahi pipi gadis itu. “Sorry, Sayang. Mommy belum sempat memberi tahu hal ini karena kedatanganmu begitu mendadak,” balas Mona merasa bersalah. Hati Julia telanjur retak. Dirinya baru menyadari foto-foto pernikahan Dave dan wanita lain di ruangan itu. Seharusnya ia yang ada di sana, bukan Mawa. Seketika darahnya mendidih, ingin merebut kembali hak yang seharusnya menjadi miliknya. “Tapi tenang saja, Sayang. Istri Dave ini mandul dan Mommy berencana ingin menceraikan mereka berdua, lalu menikahkan Dave lagi dengan gadis lain. Kebetulan kamu muncul dan cocok sudah, kamu adalah calon istri Dave di masa depan,” sambung Mona mencairkan suasana. Dave terkesiap, ingin sekali memotong pembicaraan sang ibu barusan. “Really? Mandul?” Seketika senyumnya terlukis manis. Mona pun bernapas lega. “Iya. Sampai sekarang belum memberi kami keturunan. Ah, Mommy tidak sabar, Julia.” “Mommy tenang saja. Julia tidak memiliki riwayat sakit kronis. Julia akan memberikan keturunan yang lucu-lucu untuk keluarga Anderson.” Hening, hening yang cukup lama. Hanya terdengar deru napas masing-masing yang memburu tatkala perempuan itu datang dengan tatapan nanarnya. Mawa, ia mendengar. Rencana sang mertua yang ingin membuangnya demi orang lama. Namun, apakah sepadan dengan segala pengorbanannya selama ini? “Mas ...,” panggil Mawa pelan. Sisa-sisa air mata yang mengering menjadi saksi bahwa dirinya sempat tersakiti lebih dulu oleh ucapan Mona. “Mawa, ayo masuk kamar. Kita bicarakan baik-baik di sana,” ajak Dave sambil menarik tangan sang istri. “Siapa dia, Mas?” tanya Mawa tanpa memedulikan ajakan suaminya. Ia terfokus pada seorang wanita cantik yang berdiri tepat di sebelah Mona. “Dia Julia, teman lamaku. Dia baru pulang dari pendidikan di Canada,” jawab Dave jujur. “Lalu?” “Ya, itu saja. Memangnya apa lagi?” “Dasar wanita tidak tahu diri kamu, Mawa! Kamu mau mendengar apa dari Dave? Ah, iya. Biarkan aku saja yang memberi tahumu. Julia ini adalah calon istri masa depan Dave. Setelah kalian bercerai, Dave langsung menikahi Julia,” jelas Mona menusuk hati Mawa bertubi-tubi. Mawa menatap suaminya yang setengah tertunduk, seolah tidak berani menyangkal semua ucapan Mona. Julia menghela napas panjang, memasang wajah sendu agar Mona semakin bersimpati padanya. Sosok manipulatif seperti itulah yang sebenarnya disukai oleh Dave sejak lama. Namun, takdir memisahkan mereka dan Mawa hadir menjadi penenang yang tidak pernah diharapkan. “Ayo pergi dari sini. Jangan hiraukan mereka,” bisik Dave menarik tangan Mawa sekali lagi. Meski sempat menolak, akhirnya ia menurut juga. Dave membawa Mawa ke lantai dua, lantai kamarnya. Sesampainya di depan pintu kamar, Mawa menahan langkahnya. Ia terisak, beribu-ribu pertanyaan mampir di benaknya itu. Melihat Dave yang seolah tidak berani melawan, Mawa mengurungkan niatnya. “Mawa ... jangan dipikirkan ucapan Mama tadi. Mama hanya senang karena Julia akhirnya pulang. Aku tidak akan menceraikan kamu apa pun yang terjadi,” ujar Dave berusaha meyakinkan istrinya. Jauh di dalam hati kecil itu ia tak tega, terlebih kaki Mawa sempat terluka. Dengan posisi membelakangi sang suami, Mawa membalas lirih. “Aku tidak yakin, Mas. Semua sudah jelas. Mama ingin kita cerai dan kamu menikahi gadis itu. Bukankah kamu memang mencintai Julia dari pada aku?” “Mawa, lupakan masa lalu! Yang terpenting sekarang kita cari solusi agar kamu cepat hamil. Menikah lagi itu bukan satu-satunya solusi. Aku juga tidak ingin dipandang buruk oleh publik. Belum lagi tentang Kakek.” Mawa terkekeh, senyum paksanya terlihat menyakitkan. Ia melirik Dave sekali lagi, lalu masuk kamar dengan langkah pelan. Ia lemas, tak bertenaga. Seolah energinya saat ini telah dikuras dalam sekejap saja. Terduduk sendiri di balik pintu, merana dan meratapi nasibnya yang seolah tak pernah baik. Menikah kontrak, tidak kunjung hamil, dan posisinya terancam di ujung tanduk. Julia? Nama gadis yang selalu diungkit Mona itu akhirnya muncul juga. Sebagai petaka dan mimpi buruk yang tidak pernah diinginkan sampai kapan pun. “Mawa? Buka dulu pintunya,” panggil Dave sambil mengetuk pintu. “Jangan ganggu aku, Mas. Besok urus perceraian kita secepatnya.” “Tidak, Mawa. Kita tidak akan bercerai! Aku yang akan membujuk Mama. Kamu tetap di sini dan jangan ke mana-mana. Aku akan mempertahankan rumah tangga kita sesuai perjanjian awal.” Ya, kontrak lima tahun itu sekarang tidak ada apa-apanya. Tangis perempuan malang itu semakin keras, semakin menyayat hatinya. Bukti bahwa Dave bertahan bukan karena cinta, melainkan janji dan tanggung jawabnya. Lagi-lagi sekadar formalitas, bukan perasaan dari dalam hati. Mawa harus menerima kenyataan itu meski sakitnya tak bisa dijelaskan lagi. “Aku izin pergi, Mas. Aku tidak akan mengusik hubungan kalian berdua. Maaf kalau selama ini aku hanya menjadi penghalang.” “Keras kepala! Kalau aku bilang tidak, ya tidak! Kamu tidak percaya padaku lagi atau bagaimana?!” bentak Dave kepalang emosi. Mawa memejamkan mata, menyerap segala energi buruk yang mengelilingi tubuhnya sekarang. “Aku yang tidak percaya pada Mama, Mas!” “Baik, kalau itu maumu. Mau cerai, ‘kan? Aku urus secepatnya besok!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN