Bab 3

1080 Kata
Pintu kamar itu akhirnya terbuka, tetapi bukan untuk menemui Dave yang termenung di ruang tamu, melainkan untuk melangkah pergi sendirian di tengah malam. Pertengkaran berakhir tanpa pemenang, tidak menunjukkan siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang mampu bertahan. Dave yang baru terbangun melangkah menuju kamar, berharap Mawa masih di dalam sana lalu berbicara seperti biasa. Mungkin sekadar emosi karena sakit hati dan cemburu oleh kedatangan Julia. Namun, pagi itu semua dugaan Dave runtuh. Kamarnya terlalu sunyi, tiada jejak Mawa sama sekali. Dave berdiri mematung di ambang pintu, celingukan menyapu ruangan. Ia mendapati lemari kayu itu setengah terbuka, beberapa baju Mawa hilang. Tas kecil yang selalu dibawanya tidak lagi berada di sudut meja. Bahkan ponsel cadangan yang biasa disimpan di laci pun ikut raib. “Mawa?” panggilnya lirih. Tidak ada sahutan, benar-benar sunyi dengan saksi bisu. Dave melangkah cepat menuruni tangga. Para pelayan terlihat saling pandang, wajah mereka sama-sama canggung ketika Dave bertanya. “Mawa ke mana?” “Kami tidak tahu, Tuan,” jawab Sari hati-hati. “Subuh tadi Nyonya Mawa keluar. Dia bilang mau jogging di sekitar sini, tapi sejak tadi memang belum pulang.” Darah Dave serasa naik memuncak ke ubun-ubun. Ia langsung meraih ponsel, menekan nomor Mawa berkali-kali. Nada sambung terdengar, tak diangkat hingga akhirnya mati. “s**t,” umpat Dave dalam hati. Sementara itu di ruang tamu, suara hak tinggi Mona terdengar sampai ke telinga Dave. Pertanda ibunya itu baru pulang dari suatu tempat. Dave bergegas menghampiri, ingin memastikan sesuatu. “Ma, lihat Mawa? Sejak tadi tidak kelihatan,” tanya Dave risau. Mona memutar bola matanya malas, senyum yang tadinya terlukis manis, hilang seketika. “Tidak. Mama baru pulang dari rumah Julia,” jawab Mona dengan nada datar. “Buat apa, Ma?” “Tentu saja mengantar dia pulang. Mama harus memperlakukan calon menantu Mama itu dengan baik. Kamu jangan banyak protes,” balas Mona tersinggung. Dave mengusap wajahnya, sepertinya memang tak perlu mengharapkan siapa pun. “Baik. Biar aku yang cari sendiri.” “Dia pergi atas kemauannya sendiri,” lanjut Mona dingin. “Perempuan seperti dia tidak akan bertahan lama di luar sana. Paling juga kembali sambil menangis. Buat apa repot-repot? Duduk saja menunggu di sini, Dave.” “Tidak, Mawa selalu memberi kabar kalau mau pergi ke mana pun. Pasti ada yang tidak beres, Ma,” bantah Dave. “Kamu terlalu berlebihan!” Mona memanas, seolah api kecil yang membesar seketika setelah disiram bahan bakar. “Biarkan saja dia! Lebih baik kamu temui Julia. Kalian lama tidak bertemu, setidaknya ada waktu kalian berbincang-bincang. Kamu malah pusing memikirkan Mawa. Aneh, Dave,” sambung Mona geram. Dave sempat terdiam. Baginya meski menyangkal perasaan cinta, Mawa tetap berstatus sebagai istrinya. Sah secara agama dan negara, bukan hubungan haram. “Aku suaminya, Ma. Dia juga menantu Mama. Jangan karena Mama tidak menyukainya, Mama melepas begitu saja. Kalau terjadi apa-apa bagaimana? Mama mau tanggung jawab?” pungkas Dave setelah bungkam beberapa saat. Mona menatap tajam, tak suka bila Dave terlalu berpihak pada Mawa. Perempuan kuno yang tidak mengerti apa-apa selain urusan rumah tangga, tidak pantas menjadi istri kesayangan Tuan Dave Anderson. “Mama sudah menahan hal ini sejak awal kalian menikah, Dave, tapi sekarang jangan harap. Keputusan Mama sudah bulat. Berikan Mama cucu secepat mungkin atau menikah lagi dengan Julia. Itu saja pilihanmu saat ini,” tegas Mona lalu beringsut pergi. Dave mengacak rambut frustrasi, Mawa saja belum ditemukan, sekarang masih disiksa dengan tekanan. Dave menyuruh Arthur dan Vano mencari keberadaan Mawa. Seharusnya ia pergi ke kantor perusahaan sejak satu jam yang lalu, tapi terhambat karena Mawa belum pulang. Arthur dengan sigap mendapat informasi terkini lokasi Mawa. Dave pun gegas pergi ke sana. “Mawa, pulang,” ucap Dave menarik tangan Mawa, memaksanya pergi dengannya. Mawa yang terkejut langsung menghempas genggaman itu, menahan air matanya. “Aku tidak mau pulang, Mas. Aku tidak dianggap di rumah. Buat apa aku tinggal di sana?” balas Mawa, masih terisak suaranya. “Mawa, please. Jangan kekanakan! Aku tidak akan menikahi Julia, dia hanya teman masa kecilku. Kita pulang dan bicarakan baik-baik,” bujuk Dave tak menyerah. “Cukup, Mas. Keputusan Mama sudah bulat. Aku tidak bisa memberimu keturunan dan keadaan ini memaksaku mundur. Jadi, aku pamit, Mas. Biarkan aku pergi.” “Mau ke mana kamu? Di kota besar ini siapa keluargamu yang tersisa? Kamu yatim piatu, Mawa!” Bagai tertusuk ribuan sembilu, hati yang rapuh itu patah berkeping-keping. Tangis Mawa pecah, bersamaan dengan harapan Dave yang bungkam. Lidah lelaki itu kelu, merasa bersalah. “Aku bisa hidup sendiri, masih punya tabungan. Kalau urusan perceraian kita beres, aku akan tetap menghadiri sidang,” kata Mawa tanpa menatap sang suami lagi. Kesal karena melihat Mawa yang keras kepala, Dave menarik paksa Mawa dan mencium sang istri hingga ia kesulitan bernapas. “Mas ...!” “Berhenti keras kepala dan ikuti aku!” Ciuman itu terulang kembali, lebih dalam dan intim. Mawa memejamkan mata, mengalir juga bulir-bulir kekecewaan itu membasahi pipi ranumnya. Mawa terdiam, dadanya naik turun karena sesak, sang suami mengusap lembut bibirnya yang basah. Ditatapnya Dave cukup lama sampai akhirnya Dave menggendong Mawa ala bridal style. Sempat memberontak, tetapi akhirnya kehabisan tenaga. Kali ini ia pasrah, kembali luluh karena memang hatinya terlalu mudah ditaklukkan. Dave membawa Mawa kembali pulang ke tempat seharusnya. Setibanya di sana, Mona yang duduk-duduk menikmati segelas teh hijau itu menyipitkan mata. “Kok pulang?” sindir Mona tersenyum smirk. “Padahal Mama sudah membungkus barang-barangnya yang lain. Siapa tahu tadi lupa dikemas sekalian.” Dave dan Mawa saling beradu tatap. Mawa bersembunyi di balik tubuh tegap Dave. Takut melihat tatapan tajam Mona yang seakan ingin memangsa dirinya. “Sudah, Ma. Kakek akan khawatir dan menyalahkanku jika Mawa kabur. Aku lega dia baik-baik saja dan belum sempat pergi keluar kota,” ucap Dave berusaha tenang. “Ck, kamu yang tidak mengerti maksud hatinya, Dave. Dia sendiri yang minta cerai, ‘kan? Jadi sebagai ibu mertua yang baik, Mama mengabulkan permintaannya itu. Berhubung kamu mandul, buat apa tetap bertahan? Urusan kontrak tenang saja. Mama yang bayar dendanya. Oh, iya. Julia nanti datang untuk acara makan malam kita. Sekalian mengatur rencana pernikahan kalian.” “MA, STOP! Berhenti ungkit-ungkit Julia lagi karena aku tidak peduli!” teriak Dave muak, ia bahkan menendang kaki meja hingga benda itu bergeser dari tempatnya. Mona menarik napas panjang, berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. Ia maju perlahan mendekati Dave yang setengah mati menahan amarahnya. “Jelas sudah, Dave, kamu tidak bisa menyangkal. Kamu mulai jatuh cinta pada Mawa, ‘kan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN