Bab 4

1139 Kata
“Pengacaranya sudah siap, Dave.” Ucapan Mona itu meluncur begitu saja, seolah ia sedang membicarakan sesuatu yang kurang penting, seolah perceraian bukan sesuatu yang besar baginya. Dave yang duduk di hadapannya hanya terdiam mematung, jemarinya mencengkeram cangkir kopi yang sudah dingin. Uapnya telah lama menghilang, seperti perasaannya yang semakin kalut. “Prosesnya bisa dipercepat. Tinggal tanda tangan kalian berdua,” lanjut Mona menjatuhkan map berisi dokumen untuk pengajuan cerai di meja. “Berapa pun biayanya, Mama sanggupi. Lebih cepat lebih baik, ‘kan?” Mona tersenyum getir. Suasana hatinya yang campur aduk belakangan ini dibuat lebih baik karena Dave sebentar lagi melepas Mawa. Dave menghela napas panjang. “Aku cuma mau tanya satu hal, Ma.” Mona menyandarkan punggungnya, menyilangkan tangan di d**a. “Apa?” “Mama sudah berdiskusi dengan Kakek? Walau bagaimanapun, pernikahan kami diatur oleh Kakek, Ma. Aku takut Kakek syok dan penyakitnya kambuh lagi,” ujar Dave cemas. Mona terkekeh kecil. “Urusan kakekmu biar Mama yang urus. Yang penting kalian cerai dulu, baru Mama kabari beliau. Kakek pasti akan menerima keputusan ini kalau sudah terjadi,” jelas Mona santai. “Ma, astaga. Apa-apaan ini? Aku jadi terkesan jahat karena menceraikan Mawa.” “Sekarang Mama yang tanya ke kamu, Dave. Apa perasaan kamu ke Mawa sebenarnya?” Mona berbalik, memetik sepucuk bunga segar yang baru diganti oleh Sari. “Perasaan? Aku juga bingung, Ma.” Dave membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Ribuan kata menari di benaknya, tetapi tiada satu pun yang dirasa benar. Semua salah, tidak ada jalan tengah. Dave kembali mengingat hari di mana ia menikahi Mawa, sosok gadis yang ramah, sopan, dan senyum tulus tanpa memaksa. “Aku merasa nyaman, Ma, karena dia terlalu baik.” “Bukan itu yang Mama tanya, Dave. Kamu cinta atau tidak?” Hening cukup lama, hanya terdengar deru napas mereka yang memburu. Dave menghela napas panjang, lidahnya terasa kelu. Dave menunduk, menatap pantulan dirinya di meja kaca. “Aku bingung, Ma. Aku tidak tahu.” “Kalau kamu ragu, berarti jawabannya sudah jelas.” Mona tersenyum tipis, senyum kemenangan setelah sekian lama. Dave mengangkat kepala, menatap sang ibu dalam. “Kamu masih mencintai Julia dan Mama tahu itu.” Nama itu kembali terucap, menusuk relung kalbunya yang paling dalam. Kenangan memutar kembali memori indah di masa lalu, terus mengikis perasaannya meski sudah berusaha dikubur dalam-dalam. Sejak hari di mana ia diabaikan, Dave membuang jauh-jauh harapan itu untuk bersama dalam ikatan pernikahan. “Mau sampai kapan kamu begini, Dave? Terjebak dalam perasaan yang mengambang? Kalau ragu, berarti jawabannya jelas, kamu tidak pernah mencintai Mawa!” tegas Mona membuat Dave perlahan keluar dari perasaan buntunya. Dave terdiam lama. Pada akhirnya, ia mengangguk pelan. “Ok, fine. Fine, Ma, aku kalah kali ini,” katanya pasrah, “kirimkan berkasnya.” *** Malam itu, Dave berdiri di depan pintu kamarnya sendiri, membawa map cokelat yang isinya tidak banyak, tetapi entah mengapa terasa berat. Jantungnya berdebar tidak keruan. Rasanya lebih menegangkan dibanding pertemuan pentingnya dengan orang-orang penting itu. Mawa sedang duduk di tepi ranjang ketika Dave masuk. Ia sedang melipat pakaian, kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan meski rumah itu dipenuhi asisten. Mawa menoleh dan tersenyum getir. Melihat sesuatu yang dibawa sang suami, firasatnya mengatakan ada yang tidak beres. “Kamu kelihatan lelah,” sapa Mawa. Dave menelan ludah. “Mawa, kita perlu membicarakan sesuatu. Mawa berhenti melipat. Tangannya mengendur di atas kain. “Tentang apa?” Dave meletakkan map itu di atas meja. Perlahan, ia mendorongnya ke arah Mawa. “Aku mau kamu tanda tangan ini.” Mawa menatap map itu lama, seolah berharap isinya berubah jika ia menunggu cukup lama. Namun ketika ia membukanya, jemarinya langsung gemetar. Bulir-bulir itu perlahan mengalir dari sudut mata, menandakan apa yang tak pernah ditunggu akhirnya terjadi juga. Surat cerai. Tidak ada teriakan, tidak ada pertanyaan. Hanya tarikan napas yang terdengar berat, lalu suara isakan yang tertahan. “Jadi … akhirnya sampai juga di sini,” bisik Mawa dengan suara yang mulai serak. Dave berdiri kaku, ia bahkan tak mampu menatap istrinya itu. “Aku minta maaf.” Mawa menggeleng pelan sambil menyeka air mata yang jatuh tanpa bisa ia cegah. “Kamu tidak perlu minta maaf, Mas. Aku sudah siap sejak lama.” Kata-kata itu justru terasa tajam seperti mata pisau baginya. Dengan tangan gemetar, Mawa mengambil pulpen di nakas. Air matanya menetes ke atas kertas saat ia menandatangani namanya. Perlahan, lembut, dan rapi. Sama sekali tidak ada keraguan di setiap tekanannya. “Kamu jangan khawatir. Aku akan tetap memberimu tempat tinggal yang layak dan kebutuhan bulanan.” “Semoga kamu bahagia, Mas Dave,” ucapnya lirih setelah selesai. Dave tak sanggup menatapnya lebih lama, pria itu langsung pergi setelah mengambil kembali dokumennya. Dan satu bulan telah berlalu. Mawa kini tinggal di sebuah perumahan elite yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Rumah itu cukup luas, meski tidak semegah rumah mantan suaminya dulu. Nyatanya ia tidak sendirian di sana. Kakek dan nenek Dave memilih tinggal bersamanya. Tidak ada kata yang lebih menusuk selain rasa kecewa kepada Dave yang terkesan tega membuang istrinya saat ini demi Julia. Alih-alih menjauhi, kakek dan nenek Dave semakin menyayangi Mawa seperti anak kandungnya sendiri. Mawa merawat mereka dengan penuh kasih sayang. Tidak pernah mengeluh, selalu melempar senyum terbaiknya. Ia menyiapkan obat, menemani jalan pagi, memasak makanan kesukaan mereka. “Kamu terlalu baik untuk cucu kami,” gumam sang nenek suatu sore. Mawa hanya tersenyum tipis. “Saya hanya melakukan apa yang seharusnya. Tidak perlu menatap masa lalu, Nek. Semua sudah ditakdirkan,” balas Mawa berlapang d**a. *** Kediaman Dave Anderson, pukul 21:00. Saat itu, setelah pesta makan malam antar dua keluarga besar yang sudah lama mengenal, Dave berdiri di tengah-tengah mereka sambil memegang gelas wine. Sementara Julia berbincang santai dengan keluarga yang lain. Mona tiba-tiba berdiri dan mengetuk gelasnya. Ia rasa inilah waktu yang tepat. “Ada yang ingin saya sampaikan,” katanya lantang. Seluruh pasang mata tertuju padanya. “Dave sudah resmi bercerai.” Beberapa tamu bertepuk tangan pelan, beberapa lainnya syok dan tidak menyangka. Tanpa kabar dan aba-aba, tiba-tiba saja Dave dinyatakan berpisah dengan Mawa. Mona melanjutkan, “Karena itu, saya harap keluarga bisa segera menentukan tanggal pernikahan Dave dengan Julia, teman lamanya.” Dave menelan ludah. Tepuk tangan itu terdengar seperti gema di kepalanya. “Ma, jangan buru-buru. Biarkan kami bernapas lega dulu,” bisik Dave membuat Mona mengerutkan kening. “Maksudmu? Lebih cepat lebih baik, Dave. Mama ingin cucu, jangan ditunda-tunda!” “Ah, sialan,” umpat Dave lalu memilih untuk duduk kembali. Ketika ia hendak mengambil minum, ponsel di saku celananya berbunyi tanda ada pesan masuk. Nama Arthur muncul di layar, membuat Dave terdiam mematung seketika. [Tuan, saya lihat Nyonya … maksud saya, Mawa, sedang bersama seorang laki-laki di mall. Mereka kelihatan akrab dan bergurau.] Dengan cepat Dave membalas pesan itu. [Siapa? Kamu kenal orangnya?] [Kenal. Rival abadi Tuan. Pak Ares Vandermont.]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN