Bab 1
“Kamu itu mandul, Mawa! Kamu tidak bisa memberiku keturunan, lantas apa? Aku lelah selalu dituntut ini itu oleh keluarga!”
Gelas yang dipegang Mawa saat itu langsung terjatuh, pecah berceceran di lantai, melukai ujung kakinya hingga berdarah. Sakit yang terasa tak lagi dipedulikan, ia mementingkan ucapan lelaki di hadapannya saat ini.
Dave Anderson, pria pebisnis dengan kekayaan luar biasa. Terpaksa menikahi Mawa Anindita karena keterpaksaan, desakan dari kakek neneknya.
“Mas, aku sudah jelaskan kepada Mama dan Papa, bahwa kita butuh waktu. Pernikahan kita baru menginjak satu tahun dan sudah menuntut secepat itu? Aku tidak mandul, Mas! Memang belum diberi kepercayaan saja,” pungkas Mawa dengan mata berkaca-kaca.
“Mawa, aku tidak peduli apa pun saat ini. Yang aku pedulikan adalah keturunan untuk keluarga Anderson. Mau sampai kapan kita ditanya kapan punya anak? Kapan lahirnya penerus keluarga ini? Kamu yang bermasalah, Mawa, bukan aku,” tegas Dave yang sungguh sangat melukai hati sang istri.
Mawa terdiam, menggigit bibir bawahnya. Sejak awal menikah sampai detik ini, ia nyaris tidak pernah merasakan hangatnya rumah tangga. Semua yang dilakukan Dave hanya sebatas formalitas, tanda tangan di atas kertas.
Dan saat ini, Mawa berpikir keras. Batinnya berperang antara iya atau tidak dengan keputusan yang akan dia ambil kelak.
Sambil mengusap air mata yang jatuh satu per satu, wanita berambut hitam lurus itu menatap sang suami dalam. Sangat dalam hingga Dave bisa merasakan emosi Mawa. “Baiklah, Mas. Kalau begitu cerai saja dan cari wanita lain yang bisa memberimu keturunan secepatnya. Jangan menuntut aku, Mas, karena aku baik-baik saja. Tidak ada masalah di tubuhku. Hanya waktu yang belum memberi kita kesempatan,” ucapnya lirih, tapi masih terdengar lembut di telinga Dave.
“Aku tidak meminta cerai, Mawa. Tolong jangan salah paham dan langsung menyimpulkan sesuatu. Kita coba cara lain. Berapa pun biayanya, pasti aku sanggupi,” balas Dave mulai panik. Ia tak menyangka secepat itu Mawa meminta cerai.
“Cara lain apa, Mas? Dengan tuduhan bahwa aku mandul saja itu sudah sangat jelas, bahwa kamu yang mendorongku pergi. Kamu yang memaksaku mengambil langkah ini. Aku tidak butuh promil-promil apa pun sekarang. Yang kamu butuhkan itu wanita baru, bukan aku,” pungkas Mawa semakin berlinang air mata.
“Dengarkan aku dulu! Kamu selalu saja begini, selalu berpikir berlebihan!”
“Cukup, Mas.”
Perhatian Dave yang kehabisan kata-kata itu teralihkan ke arah kaki Mawa yang berdarah. “Mawa, biar aku obati kakimu dulu sebelum infeksi,” ucap Dave panik. Namun, wanita itu malah mundur menjauh, seolah pria di hadapannya tidak punya hak atas apa pun.
“Aku bisa mengobatinya sendiri, Mas. Jangankan luka di kakiku ini. Luka di hati karena ucapanmu barusan pun bisa aku sembuhkan sendiri.”
Usai mengatakan itu, Mawa berbalik badan dan pergi. Air matanya mengering di pipi manisnya, membuat perasaan Dave campur aduk. Hatinya mendadak kelabu, patah berkeping-keping sesaat setelah sosok istrinya lenyap dari pandangan.
Mawa? Benarkah berani mengambil keputusan itu?
Dave menghela napas panjang, berencana menyusul kepergian Mawa. Namun, tangannya ditahan oleh sang ibu yang ternyata sejak tadi mendengar percakapan mereka. Mona Anderson, wanita blasteran Portugis-Indonesia yang terkenal tegas dan perfeksionis itu menatap Dave nanar. Ia tersenyum tipis, seolah sejalan dengan pikiran Mawa.
“Dave, sudah-sudah. Kalau memang dia ingin bercerai, ya cerai saja. Sejak awal Mama tidak setuju kamu menikah dengannya. Hanya karena saran dari kakekmu itu, mau tidak mau Mama menurut,” ucap Mona lalu mengajak sang putra duduk bersamanya. Dave mengacak rambut frustrasi.
“Ma, tapi kami baru setahun menikah. Benar kata Mawa, wajar jika dia belum hamil. Kata dokter juga benar. Bisa jadi karena aku sibuk dan banyak pikiran, kualitas spermaku jadi menurun dan sulit membuahinya. Mama dan Papa tolong bersabar dulu,” jelas Dave.
“Dave, kami ini sudah tua. Semakin hari umur kami semakin terkikis waktu. Ajal juga bisa datang kapan pun. Mama tidak pernah menuntut apa-apa padamu sejak kecil, ‘kan? Meski kamu mewarisi kekayaan keluarga Anderson, tapi Mama tetap memberimu kebebasan. Untuk kali ini saja, Mama sangat ingin menggendong cucu, Dave ....”
Lelaki tampan bertubuh tegap itu terdiam, setengah menunduk, enggan menatap ibunya. Pikirannya terpecah seperti potongan puzzle yang sulit disatukan kembali.
“Ma, beri kami waktu.”
“Tidak bisa, Dave. Tahun ini juga kami harus mendengar kabar kehamilan dari istrimu. Mama tidak peduli apakah kamu harus menikah lagi atau bagaimana. Masih banyak gadis-gadis yang subur dan bisa memberimu keturunan dalam waktu singkat,” potong Mona bersikeras.
“Jadi? Mama sangat ingin kami bercerai dan aku menikah lagi?”
“Iya,” jawab Mona mantap. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah jendela. “Mama sudah bilang tadi, Mama memang kurang setuju kamu menikahi Mawa. Dia itu terlalu sederhana. Sehari-harinya hanya tahu pekerjaan rumah. Yatim piatu, tidak punya keluarga, tinggal di sini karena dikasihani kakekmu itu. Paling tidak kamu menikah dengan gadis yang setara. Berpendidikan, pintar, dan cantik,” sambungnya membuat Dave terpikirkan satu nama.
“Kakek sangat menyukai Mawa karena penurut dan baik, Ma. Di zaman sekarang ini sangat langka gadis seperti itu.”
“Tapi apa gunanya kalau mandul? Mau sampai kapan kalian berdua saja?”
Dave tercekat, lidahnya kelu dan tidak bisa berpikir lagi. Sepertinya Mona sangat ingin menyingkirkan Mawa dari kehidupan anaknya.
Mona berjalan cepat mendekati Dave lagi, lalu duduk di sebelah sang putra. Dengan senyum manisnya, Mona berucap, “Kamu menikah saja dengan Julia, Dave. Mama sangat setuju jika kamu bersanding dengannya!”
Dave menoleh cepat, menatap tajam. Julia? Gadis yang sudah menghilang tanpa kabar selama setahun itu?
“Tidak, Ma. Jangan Julia. Julia tidak ada kabar sampai detik ini. Mungkin dia juga sudah menikahi pria lain,” tolak Dave mentah-mentah.
“Tidak mungkin, Dave. Mama sendiri yang mendengarnya berjanji, hatinya hanya untuk kamu. Mama yakin Julia tidak mungkin ingkar janji. Dia adalah wanita berprinsip dan berwibawa, tidak seperti istrimu itu.”
“Iya, tapi dia ke mana, Ma? Kalau memang mencintaiku dengan tulus, mengapa hilang tanpa kabar dan tidak ada penjelasan? Keluarganya pun bungkam. Sudahlah, aku lelah. Aku tidak ingin membahas Julia lagi,” tegas Dave hendak beranjak pergi. Namun, baru beberapa langkah menjauhi Mona, tiba-tiba kakinya terhenti begitu mendengar suara seseorang yang lama tak mampir di telinganya.
“Kalau selama ini alasanku hilang demi mengejar pendidikan, apakah kamu tetap menerimaku, Dave?”
Dave menoleh, menatap gadis itu dari bawah ke atas. Dirinya terkesiap, antara terkejut dan denial. Mimpikah? Atau sesuatu yang sebentar lagi menjadi takdirnya?
“Nah, itu dia. Panjang umur.”