Langkah wanita itu terburu-buru, sesekali ia melirik jam yang melingkar di tangan. Dadanya naik turun menahan amarah, benaknya juga dipenuhi beribu pertanyaan. “Akash! Kenapa kamu menghubungiku lagi? Bukankah aku sudah memberi apa yang kamu mau?” tanya Julia setelah berhenti depan meja seorang pria yang duduk santai sambil tersenyum smirk. Julia mengelus perutnya yang membesar disertai dengkusan kesal. “Akhirnya kamu datang, Julia.” Akash tersenyum manis. Lumayan lama ia menunggu di sini, hampir setengah jam. “Katakan apa maumu, Brngsek?!” tanya Julia tak bisa bersabar lagi. Akash mulai melampaui batas, menekan batasan yang Julia bangun sejak awal. “Haha, tenang, Julia. Tidak perlu berteriak seperti itu.” Akash meraih tangan Julia, menyentuhnya dengan lembut. “Lepas! Jangan beran

